Juli 13, 2026

Pemimpin Sejati: Yang Paling Diingat Bukan yang Paling Berkuasa, Melainkan yang Paling Mendengar

by

medianewstrn

medianewstrn.com

Datuk Iskandar Saefullah: Kemampuan Menangkap Inti Pesan di Balik Emosi Adalah Kunci Utama Keutuhan Organisasi

JAKARTA – Dalam setiap pertemuan, rapat kerja, maupun dinamika kehidupan berorganisasi, sering kali muncul momen yang menjadi ujian terberat sekaligus titik balik bagi kepemimpinan.

Ketika seorang anggota menyampaikan gagasan atau keluhan dengan nada meninggi, kata-kata tajam, dan wajah penuh kemarahan, respons pertama yang muncul akan menentukan arah hubungan dan keberlangsungan kebersamaan ke depan.

Menurut pandangan Datuk Iskandar Saefullah, Ketua Yayasan Pesantren Indonesia – Alzaytun, yang disampaikan dalam tulisan pemikirannya berjudul “Jadilah Pemimpin Efektif yang Lebih Banyak Mendengar”, pada detik itulah terjadi sebuah “ilusi optik kepemimpinan”.

Sebagian pemimpin terperangkap pada penilaian permukaan: menganggap sikap tersebut kurang sopan, berlebihan, bahkan bentuk penghianatan, lalu merespons dengan kemarahan balik hingga tindakan pemutusan hubungan.

Padahal, di balik nada tinggi dan kata-kata yang tajam itu, tersimpan pesan yang mendasar, mendesak, dan berharga bagi kemajuan organisasi.

“Pemimpin yang efektif memegang satu prinsip pokok: masalah dan orang yang menyampaikannya adalah dua hal yang berbeda,” tegas Datuk Iskandar. Emosi yang meluap-luap bukanlah tanda ketidakpatuhan atau ketidakprofesionalan semata, melainkan sinyal kuat bahwa hal tersebut telah lama mengendap, telah disampaikan berulang kali namun tak digubris, dan kini menjadi jeritan terakhir karena sudah tak sanggup lagi ditahan.

Jika pemimpin justru terpancing mengkritik cara penyampaiannya, maka pesan tersirat yang sampai kepada seluruh tim sangatlah jelas: lebih aman diam daripada berani bicara.

Untuk mengasah kemampuan membedakan antara isi dan kemasan pesan, Datuk Iskandar mengajak setiap pemimpin melakukan introspeksi mendalam melalui tiga pertanyaan kunci:

1. Apakah isu yang diangkat ini valid, penting, dan berdampak nyata bagi organisasi?

2. Apa akar penyampaian yang dilakukan dengan cara demikian? Sudah berapa lama persoalan ini menggantung tanpa penanganan?

3. Apa yang bisa diambil sebagai pembelajaran demi perbaikan sistem komunikasi dan kepekaan kepemimpinan kita?

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pemimpin yang hebat bukanlah mereka yang paling cerdas, paling fasih berbicara, atau paling berwibawa dalam mengatur orang lain. Melainkan mereka yang mampu menciptakan lingkungan aman dan terbuka, di mana setiap orang berani menyampaikan kebenaran—meski disampaikan dengan cara yang belum sempurna.

Dalam praktiknya, diperlukan pandangan yang luas dan mendalam, atau yang disebutnya sebagai “giraffe vision”: selalu mencari inti pesan seperti jerapah yang memandang jauh ke depan, sebelum terpancing pada nada dan gaya penyampaian seperti singa yang mengaum.

Respons awal yang tepat adalah menghargai keberanian berbicara, meredakan ketegangan, baru kemudian menyampaikan masukan mengenai cara penyampaian pada waktu yang tepat dan suasana yang tenang.

Pada bagian penutup pemikirannya, Datuk Iskandar mengingatkan kembali hakikat tertinggi kepemimpinan: “Pemimpin yang paling dihormati bukanlah yang paling ditakuti, melainkan yang paling mendengar.”

Ketika seorang pemimpin mampu menahan diri untuk berbicara lebih banyak dan justru melatih diri untuk mendengar dengan sepenuh hati, maka kebersamaan akan senantiasa terjaga dengan kokoh, konflik dapat ditekan seminimal mungkin, dan organisasi akan tumbuh menjadi ruang yang memajukan kesejahteraan serta kemajuan bersama terutama bagi lembaga-lembaga besar yang telah berusia dan memiliki sejarah panjang pengabdian.

Peliputan Sutarno

Berita Relevan