PADANG PARIAMAN – Duka dan kesulitan yang ditimbulkan oleh diterjangnya jembatan penghubung utama melintasi Sungai Batang Anai akibat banjir bandang pada penghujung tahun 2025 belum menemukan titik terang.
Selama lebih dari tujuh bulan berlalu, akses vital yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, tetap terputus tanpa ada tanda-tanda dimulainya upaya pemulihan.
Kondisi memprihatinkan ini akhirnya mendorong suara para ibu dan segenap warga untuk menyampaikan permohonan dengan penuh harap kepada Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga
“Kami memanjatkan permohonan yang tulus kepada Bapak Presiden, kiranya jembatan ini segera dibangun kembali. Tanpa jembatan ini, kehidupan kami seolah terputus dari dunia luar.
Anak-anak yang bersekolah, para pedagang, petani, seluruh lapisan masyarakat merasakan beban yang sangat berat setiap harinya,” ungkap Ibu Liza, seorang pedagang kaki lima asal Kampung Jambak, Nagari Anduriang, dengan nada haru dan penuh keprihatinan.
Ditemui di tepi Sungai Batang Anai oleh tim redaksi RATASGRUP, Ibu Liza menceritakan betapa dalamnya dampak kerusakan itu merambah sendi-sendi perekonomian dan aktivitas keseharian warga. Jembatan yang runtuh sejak akhir November tahun silam telah mengubah wajah kehidupan masyarakat menjadi jauh lebih sulit dan memakan biaya yang tidak sedikit.
“Sejak jembatan hanyut diterjang banjir, beban kami kian bertambah. Jika debit air sungai sedang tinggi dan tidak dapat diseberangi, kami terpaksa menempuh perjalanan memutar sejauh 20 kilometer hanya untuk mencapai pasar guna menjual hasil bumi atau membeli kebutuhan pokok.
Semua biaya dan tenaga harus kami korbankan demi sekadar melangsungkan hidup,” tambahnya seraya menatap aliran sungai yang masih tampak deras dan ganas.
Bagi warga Nagari Anduriang, jembatan itu bukan sekadar bangunan infrastruktur belaka. Ia adalah urat nadi yang menghubungkan mereka dengan pusat pelayanan pendidikan, kesehatan, perdagangan, serta kesempatan untuk mengembangkan hasil bumi dan usaha rakyat.
Terputusnya akses ini berarti tersendatnya laju harapan, melambatnya pertumbuhan ekonomi, dan terhambatnya pemenuhan hak dasar bagi seluruh warga, khususnya generasi muda yang sedang menempuh pendidikan.
Suara jeritan ini kini menjadi pengingat bagi segenap pemangku kepentingan. Masyarakat Nagari Anduriang menaruh keyakinan penuh bahwa perhatian dan kehadiran negara akan segera terwujud, memulihkan jembatan yang rusak, sekaligus membangun kembali jembatan harapan agar kehidupan mereka dapat kembali berjalan wajar, aman, dan sejahtera seperti sediakala.
Reported by Sutarno
Sumber berita Ratas tv

















