Juli 27, 2026

Di Tengah Tekanan AS dan Israel, Jaksa ICC Karim Khan Resmi Dilengserkan, Diduga Ada Intervensi Politik

by

medianewstrn

medianewstrn.com

DEN HAAG – Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengalami pergolakan besar. Karim Khan resmi dicopot dari jabatannya sebagai Jaksa Penuntut Utama ICC, sehari setelah pemungutan suara yang digelar majelis negara anggota. Keputusan ini dijatuhkan pada Jumat (24/7/2026), tepat saat lembaga peradilan dunia itu sedang menghadapi tekanan luar biasa dari Washington dan Tel Aviv.

Pencopotan ini memuncak setelah Khan mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant terkait dugaan kejahatan perang di jalur Gaza pada tahun 2024. Langkah hukum tersebut memicu kemarahan Amerika Serikat dan Israel, hingga pemerintahan Donald Trump menjatuhkan sanksi pribadi kepada Khan beserta sejumlah pejabat ICC lainnya.

Alasan resmi yang dikemukakan adalah dugaan pelanggaran seksual yang dilaporkan seorang saksi bernama Sarah, yang menuduh adanya sentuhan dan perbuatan tidak pantas. Namun hal ini dibantah keras oleh Karim Khan dan tim hukumnya. Mereka merujuk hasil pemeriksaan Kantor Pengawasan Internal PBB yang justru tidak menemukan bukti penyimpangan yang dimaksud.

Kepala tim hukum Khan, Tayab Ali, menilai langkah ini sarat muatan politik. “Keputusan ini memiliki dampak jauh melampaui kasus pribadi Khan. Pemecatan ini dilakukan lewat pemungutan suara eksekutif saat klien kami masih dibekukan tugasnya, dan saat lembaga ini sedang diguncang tekanan berat,” tegasnya seperti dikutip Al Jazeera.

Ia mengingatkan bahwa kemandirian ICC sangat bergantung pada jaminan perlindungan pejabatnya dari pemecatan yang didasari proses politis, tidak adil, atau mengabaikan temuan lembaga pemeriksa independen.

Menyusul lengsernya Khan, kepemimpinan ICC sementara dijalankan bersama oleh dua Wakil Jaksa Penuntut, Nazhat Shameem Khan dan Mame Mandiaye Niang. Sepanjang masa jabatannya, Karim Khan dikenal berani menangani berbagai konflik global, namun keputusannya menjerat pemimpin Israel menjadikannya sasaran serangan gencar dari kekuatan besar dunia.

Wartawan sutarno

Berita Relevan