JAKARTA – Seandainya saja ia mau, satu telepon saja sudah cukup membukakan segala kemudahan. Ayahnya adalah Hoegeng Iman Santoso, Kapolri kelima Republik Indonesia, jenderal bintang empat yang namanya harum hingga kini. Namun Aditya Soetanto Hoegeng memilih jalan yang berbeda: setiap hari ke bengkel, tangannya belepotan oli, dan mengais upah halal untuk membiayai kuliahnya sendiri. Senin 27/7/2026.
Saat menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Aditya bekerja di bengkel milik pembalap legendaris Henky Irawan. Tak ada titipan, tak ada permohonan kepada bawahan ayahnya.
Hanya kerja keras, keringat, dan upah yang ia terima dengan jujur. Itulah pesan tegas Hoegeng: keluarganya dilarang menyentuh satu pun fasilitas atau kemudahan yang berasal dari jabatan yang diembannya.
Baca Juga
Kala pejabat lain anaknya berkeliling dengan kendaraan mewah, keluarga Hoegeng berjalan kaki atau naik angkutan umum. “Kami juga ingin punya kendaraan, namun kami atasi dengan kesederhanaan hidup kami,” tulis Aditya dalam buku Hoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa.
Pesan ayahnya sederhana namun mendalam: “Di mana pun dan apa pun posisimu, bekerjalah dengan benar.”
Ada satu momen yang pernah melukai hati Aditya. Ketika berminat masuk Akabri, ia meminta tanda tangan izin orang tua ke Markas Besar Polri. Namun ayahnya menerimanya layaknya orang asing, dingin dan formal, hanya berkata “nanti saja” dan surat itu tak pernah ditandatangani.
Begitu pula saat ia mencoba masuk Akademi Angkatan Udara, Hoegeng menolak memberi rekomendasi. Bukan tak sayang, tapi ia tak ingin nama besarnya menjadi jalan pintas yang melanggar prinsip keadilan. Dulu sempat kecewa, kini Aditya justru bersyukur.
Satu pertanyaan kecil pernah meluncur dari mulutnya: “Mengapa tanda tangan Ayah hanya ‘Hoegeng’, bukan nama lengkap?” Ayahnya memegang tangannya, lalu menjawab perlahan: “Nak, saya akan buktikan sampai saya meninggal bahwa iman saya benar-benar sentosa. Baru saya pantas menyandang nama lengkap saya Hoegeng Iman Santosa.”
Hoegeng membuktikannya. Saat dicopot dari jabatan karena terlalu tegas mengusut kasus yang menyentuh lingkaran kekuasaan, ia mengembalikan seluruh inventaris negara tanpa sisa. Ketika penggantinya bertanya heran, ia menjawab tenang: “Memang itu bukan milik saya.”
Pensiun pun hidupnya sederhana. Hingga tahun 2001, uang pensiunnya hanya sekitar sepuluh ribu rupiah per bulan. Ia melukis, berkebun, dan memainkan gitar bersama kelompoknya.
Kini Aditya menjabat Wakil Direktur PT Yamaha Musik Indonesia. Jauh dari seragam kepolisian, namun ia membawa warisan yang jauh lebih berharga: nama baik yang tak ternilai harganya.
Gus Dur pernah berseloroh bahwa di Indonesia hanya ada tiga polisi jujur: Hoegeng, polisi tidur, dan patung polisi. Bagi siapa pun yang tahu kisah anak jenderal yang rela kotor tangan demi nafkah halal, kalimat itu bukan sekadar candaan, melainkan doa rindu pada sosok pemimpin yang menjadikan kejujuran sebagai harga mati.
Negeri ini akan makmur dan adil jika setiap pemimpin memiliki keteguhan hati dan ketinggian spiritual sebagaimana yang ditunjukkan oleh Almarhum Hoegeng Iman Santoso.
(Dikutip dari tulisan Adam Tanjung Abdullah)













