SURABAYA – Cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sangat tinggi yang mengguyur sejumlah wilayah di Provinsi Jawa Timur selama berhari-hari terakhir kembali memicu bencana hidrometeorologi.
Aliran sungai di berbagai titik meluap melewati batas normal, merendam kawasan permukiman, jalur transportasi, dan fasilitas umum, serta membawa dampak serius bagi kehidupan ribuan warga. Senin 11 Mei 2026
Situasi ini kembali mengingatkan pada kerentanan wilayah utara dan selatan Jawa Timur terhadap ancaman banjir yang kerap berulang setiap kali memasuki puncak musim penghujan.
Baca Juga
Berbeda dengan kejadian serupa di wilayah lain, di Jawa Timur, sejumlah daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, hingga Malang menjadi titik terdampak utama.
Volume air hujan yang turun jauh melampaui kapasitas daya tampung tanah dan sistem drainase yang ada. Kondisi ini diperparah oleh meluapnya aliran sungai besar yang membelah wilayah tersebut, sehingga air bah merambat cepat masuk ke pemukiman padat penduduk.
Data resmi yang dihimpun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur mencatat, setidaknya lebih dari 150 kepala keluarga atau setara dengan lebih dari 500 jiwa terdampak langsung oleh genangan air yang ketinggiannya bervariasi dari 50 sentimeter hingga mencapai lebih dari satu meter. Ratusan rumah warga kini terendam, memaksa sebagian penduduk mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman seperti balai desa, masjid, atau gedung sekolah sementara waktu.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, dalam keterangan resminya, menyampaikan bahwa fenomena banjir ini bukan sekadar akibat curah hujan yang tinggi semata, melainkan juga dipicu oleh faktor kerusakan infrastruktur pengendali air.
“Kondisi ini menjadi langganan setiap musim hujan tiba. Namun kali ini, kerusakan pada sejumlah bangunan pintu air dan tanggul sungai menjadi faktor utama yang memperparah situasi.
Aliran air tidak dapat dikendalikan dengan baik, sehingga meluap ke mana saja dan merendam pemukiman warga,” ungkapnya, serupa dengan apa yang terjadi di kawasan Kali Wanggu.
Ia menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi erat dengan Dinas Sumber Daya Air, Balai Besar Wilayah Sungai, serta pemerintah kabupaten/kota terkait untuk segera menyusun rencana perbaikan darurat maupun jangka panjang. Kerusakan struktur pengendali banjir ini harus segera ditangani agar risiko yang lebih besar dapat dicegah di masa mendatang.
Hingga saat ini, tim gabungan yang terdiri dari unsur BPBD, TNI, Polri, dan relawan kemanusiaan terus bergerak melakukan evakuasi warga, pendataan kerusakan, serta penyaluran bantuan dasar yang sangat dibutuhkan. Air yang mulai surut perlahan-lahan belum sepenuhnya membawa kelegaan, karena warga kini dihadapkan pada tugas berat membersihkan sisa lumpur dan puing yang tertinggal.
Pihak berwenang juga masih terus melakukan pendataan rinci mengenai jumlah kerusakan bangunan, fasilitas umum, serta nilai kerugian materiil. Selain itu, kebutuhan mendesak berupa air bersih, obat-obatan, makanan siap saji, dan perlengkapan tidur menjadi prioritas utama yang disiapkan untuk warga terdampak.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menegaskan komitmennya untuk membenahi sistem pengelolaan air secara menyeluruh. Banjir yang berulang ini menjadi bukti nyata perlunya pembenahan tata ruang, pemeliharaan sungai, dan perkuatan infrastruktur agar ke depan, warga tidak lagi harus menjadi korban berulang dari bencana yang sama.
“Kami berjanji perbaikan sarana pengendali air akan segera dilaksanakan, agar kejadian memilukan seperti ini tidak terus-menerus terulang di tahun-tahun mendatang,” tegas pernyataan resmi tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih berharap hujan segera berhenti dan air benar-benar surut, agar mereka dapat kembali menata kehidupan yang sempat lumpuh akibat ganasnya luapan air sungai.
Reporter by Iwan Wahyudi
( Dok foto BPBDI Jatim )

















