JAKARTA – Pergantian pimpinan Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan membuka harapan baru. Gubernur BI Destry Damayanti dan Menteri Keuangan Suahasil Nazara, keduanya bukan wajah asing di kebijakan ekonomi, kini memegang kendali stabilitas dan anggaran. Pelaku usaha menanti: apakah konsolidasi ini akan menyentuh langsung sektor riel yang kini terpuruk?
Tekanan Berat yang Menimpa
Sektor riel menghadapi serangan beruntun. Rupiah melemah, biaya energi melonjak, bahan baku impor makin mahal, produk selundupan membanjiri pasar, dan daya beli masyarakat merosot tajam. Akibatnya, gelombang tutup usaha tak terelakkan. Akumindo mencatat dari 64 juta unit UMKM, tersisa 34 juta yang masih beroperasi — berarti 30 juta unit telah bangkrut. Pengangguran melampaui 7 juta jiwa, belum termasuk pelaku usaha yang gulung tikar.
Pemerintah telah meluncurkan dua inisiatif besar: Koperasi Desa Merah Putih dan Danantara. Keduanya dipandang strategis, namun dampaknya belum terasa segera. Sementara itu, sektor riel butuh pertolongan sekarang.
Fiskal Harus Meluas Sasaran
Kebijakan fiskal yang ekspansif saat ini masih terpusat pada program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis dan pembentukan koperasi desa. Bamsoet mengingatkan: anggaran besar juga harus menopang pemulihan produksi — memperbaiki jalan, pelabuhan, logistik, dan efisiensi biaya yang meringankan beban daerah. Pemangkasan Transfer ke Daerah memaksa 94 Pemda mengajukan pinjaman pembangunan, sementara perluasan objek pajak justru membebani warga yang daya belinya sedang lemah.
“Menaikkan pajak di tengah tekanan ekonomi bukan solusi. Justru dibutuhkan insentif, keringanan, dan subsidi agar daya beli bangkit, permintaan tumbuh, dan pabrik kembali berproduksi,” tegas Bamsoet.
Moneter Penurunan Biaya Modal
Dari sisi kebijakan moneter, pelaku usaha berharap BI menurunkan suku bunga agar kredit modal kerja murah, khususnya bagi UMKM. Stabilitas nilai tukar juga krusial mengingat ketergantungan industri terhadap bahan baku impor. Penindakan tegas terhadap barang selundupan wajib diperkuat agar pasar dalam negeri kembali sehat.
Bukan Ego Sektoral, Tapi Satu Tujuan
Destry Damayanti dan Suahasil Nazara dipuji memiliki pengalaman mendalam. Kini kuncinya: bersinergi tanpa ego sektoral. Kebijakan fiskal memperluas ruang pemulihan, kebijakan moneter menjaga harga dan melonggarkan likuiditas, penegakan hukum memberantas barang ilegal. Ketiga kekuatan ini harus bergerak beriringan.
“Kekuatan ekonomi tidak lahir dari anggaran semata, melainkan dari pabrik yang menyala, lapangan kerja yang tercipta, dan rakyat yang berdaya beli. Itulah pemulihan yang sesungguhnya,” pungkas Bamsoet. @Sutarno















