BEKASI – Polemik menyertai pelaksanaan serangkaian upacara adat yang diikuti Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam kunjungannya ke Provinsi Lampung masih menjadi perbincangan hangat di ruang publik.
Berbagai pandangan bermunculan, termasuk tanggapan dari sejumlah tokoh dan kader partai politik terkait makna serta kelayakan prosesi tersebut.Rabu 30 Juni 2026.
Menyikapi beragam penilaian yang mulai menyeret hal itu ke dalam pembahasan politik, Bestari Barus, tokoh dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), mengemukakan pandangannya dengan tegas.
Baca Juga
Ia menegaskan bahwa tradisi budaya yang dijalani tidak sepatutnya dijadikan bahan perdebatan atau dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok tertentu.
Salah satu momen yang paling banyak disorot adalah prosesi menginjak kepala kerbau—sebuah tata cara adat yang sudah berakar kuat di kehidupan masyarakat setempat.
Menurut penjelasan Bestari, langkah tersebut bukan sekadar gerakan seremonial belaka, melainkan wujud penghormatan tertinggi yang disampaikan warga kepada tamu istimewa yang dianggap memiliki kedudukan mulia atau telah memberikan jasa besar bagi masyarakat.
“Prosesi itu merupakan bagian dari tradisi adat Lampung yang telah berlangsung jauh sebelum lahirnya partai-partai politik yang ada saat ini.
Karena itu, jangan sampai ritual budaya dimaknai secara sempit hanya untuk kepentingan politik sesaat,” ujar Bestari Barus dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).
Ia menambahkan, warisan budaya yang diwariskan turun-temurun tersebut mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang patut dijaga kemurniannya.
Apabila dimaknai secara sepihak atau dijadikan alat serangan politik, dikhawatirkan hal itu justru akan melukai perasaan masyarakat adat yang telah merawat tradisi tersebut selama berabad-abad.
Sebelumnya, sejumlah kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga telah menyampaikan pandangan dan komentar mereka terkait pelaksanaan upacara adat tersebut.
Beragam tanggapan itu pun memicu perbincangan luas di kalangan masyarakat mengenai batasan antara penghormatan budaya dan kaitannya dengan ranah kekuasaan maupun politik praktis.
Hingga saat ini, berbagai kalangan masyarakat terus berharap agar setiap peristiwa yang bernilai budaya senantiasa dilihat dari sudut pandang pelestarian warisan leluhur, bukan dijadikan bahan perpecahan di antara bangsa.
Reported by Sutarno

















