Juli 21, 2026

Totok Soekarnoputra: Warisan Luhur Sang Proklamator, Inspirator Utama Kebangkitan Kader Marhaenis

by

medianewstrn

medianewstrn.com

JAKARTA, – Terpilihnya Putra Naibaho sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Marhaenis (DPP GPM) periode 2026 2030 membuka lembaran baru yang penuh harapan bagi perjuangan ideologi kebangsaan. Rabu 18 Juni 2026.

Di balik kepercayaan dan amanah yang dipikulnya, tersemat jejak bimbingan serta teladan mulia dari sosok yang dihormati: Totok Suryawan Soekarnoputra, keturunan langsung Bung Karno, yang kini diakui sebagai penggerak semangat sekaligus tiang inspirasi bagi kader-kader muda Marhaenis di seluruh penjuru negeri.

Di tengah keluarga besar Gerakan Pemuda Marhaenis, Totok Soekarnoputra menjelma menjadi jembatan hidup yang menghubungkan nilai-nilai luhur pemikiran sang Proklamator dengan dinamika tantangan kebangsaan masa kini.

Melalui pengalaman panjangnya dalam gerakan sosial, pengabdian politik, serta kegiatan memupuk kesadaran bernegara, ia tampil sebagai figur yang tidak hanya dihormati, tetapi juga dekat dengan kader hingga ke lapisan akar rumput.

Dengan gaya kepemimpinan yang terbuka, bersahaja, dan jauh dari kesan berlebih-lebihan, ia mewujudkan makna sejati dari perjuangan tanpa sekat. Konsistensinya memperjuangkan penguatan ideologi Marhaenisme sebagai landasan perjuangan  demi mewujudkan keadilan sosial, kemandirian bangsa, serta keberpihakan mutlak kepada rakyat kecil  menjadikannya sosok yang dipercaya mengemban amanah sebagai Dewan Penasehat DPP GPM untuk periode mendatang.

“Beliau adalah teladan yang mengubah cara pandang saya terhadap makna perjuangan. Meskipun lahir dari trah agung Bung Karno, beliau tidak pernah hidup dalam lingkaran elitis, melainkan berbaur sederhana layaknya rakyat biasa.

Bahkan saat persiapan Kongres XI GPM, beliau turut mendampingi secara langsung mengantarkan berkas dan proposal ke sejumlah instansi pemerintah di Jakarta,” tutur Putra Naibaho dalam keterangannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2026).

Pengalaman berharga itu menjadi pelajaran mendalam bagi Sekjen GPM yang baru terpilih. Baginya, sosok Totok membuktikan bahwa kewibawaan sejati tidak lahir dari gelar atau keturunan, melainkan dari keikhlasan melangkah bersama kader, berbagi gagasan, serta menyalakan kembali api kecintaan pada tanah air dan cita-cita perjuangan.

“Di sela-sela perjalanan itu, setiap nasihat dan pandangan beliau membangkitkan kembali semangat juang yang sempat redup. Beliau mengajarkan bahwa ideologi bukan sekadar seruan, melainkan keyakinan yang harus tercermin dalam setiap langkah nyata,” tambah Putra dengan penuh rasa hormat.

Lebih dari sekadar figur teladan, Totok Soekarnoputra dikenal sebagai pendidik kader yang gigih. Melalui forum diskusi, pendidikan ideologi, serta kegiatan kebangsaan, ia terus menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga persatuan, menghidupkan semangat gotong royong, serta membangun kesadaran politik yang tidak berpihak pada kepentingan golongan, melainkan pada kesejahteraan seluruh rakyat.

Peran bimbingannya juga terasa nyata bagi perjalanan karier politik dan organisasi Putra Naibaho. Menjelang penyelenggaraan Kongres XI GPM, ketika Putra sempat meragukan kehadirannya karena berbagai kendala, dukungan serta keteguhan hati yang disampaikan Totok menjadi pendorong terkuat.

Bahkan, kehadiran yang semula direncanakan hanya sebagai peserta kongres justru melahirkan kepercayaan luas, hingga akhirnya ia dipilih secara musyawarah mufakat menduduki posisi strategis Sekretaris Jenderal.

“Beliau terus mengingatkan bahwa perjuangan tidak mengenal kata mundur. Dukungan dan doa beliau menjadi energi terbesar yang mengantarkan saya hingga titik ini. Saya menganggap amanah ini juga sebagai wujud pengabdian atas arahan dan teladan yang telah diberikan,” ungkap Putra.

Bagi keluarga besar Gerakan Pemuda Marhaenis, kehadiran Totok Soekarnoputra bukan sekadar penerus garis keturunan, melainkan penjaga warisan pemikiran yang tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman.

Ia meyakinkan bahwa semangat Marhaenisme  yang menempatkan rakyat sebagai tuan negeri — akan terus hidup, diperkuat melalui kaderisasi yang kokoh, kepemimpinan yang jujur, serta komitmen tak tergoyahkan untuk mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Reported by Dimas Wening Adiwono

Berita Relevan