JAKARTA – Anggapan bahwa putra daerah Lampung memiliki watak keras atau cenderung berbuat jahat sering kali melekat sebagai stigma sosial. Namun, sering kali pandangan itu hanya melihat satu sisi saja, tanpa memahami perjalanan hidup dan proses pendewasaan seseorang.
Kisah hidup Sastra Suganda, putra asli kelahiran Desa Tanjung Ratu, Kecamatan Selaga Linggai, Kabupaten Lampung Tengah, adalah bukti nyata bahwa masa lalu kelam bukanlah takdir, melainkan babak yang bisa ditutup dan diubah menjadi kisah sukses yang penuh manfaat.
Perjalanan hidupnya yang penuh liku, dari masa-masa sulit hingga menjadi tokoh yang disegani, telah mematahkan segala anggapan sepihak tersebut.
Baca Juga
Di masa mudanya di kampung halaman, Sastra dikenal sebagai sosok yang sangat berani, tegas, dan tidak pernah gentar menghadapi siapa pun. Namun, keberanian itu dulu tersalurkan ke jalur yang keliru.
Beliau pernah terjerumus ke dalam dunia gelap, dikenal sebagai seorang perampok dan terlibat dalam sejumlah tindakan kriminal di wilayah Lampung Tengah. Tindakan-tindakan tersebut kala itu membuat namanya disegani karena ditakuti, namun jauh dari kata dihormati.
Ia sempat memimpin organisasi yang kegiatannya berada di ambang batas hukum, di mana kekuatan fisik dan kekerasan kerap menjadi jalan penyelesaian masalah. Masa-masa kelam ini menjadi bagian sejarah hidup yang tak bisa ia hapus, namun justru menjadi titik tolak yang mengajarkannya makna perubahan.
Menyadari bahwa jalan yang ditempuhnya tidak akan membawa kebaikan bagi dirinya maupun orang lain, Sastra kemudian memutuskan merantau ke Jakarta.
Keputusan ini bukan sekadar mengubah tempat tinggal, melainkan tekad bulat untuk mengubah nasib dan menutup masa lalu yang kelam. Di ibu kota, ia memulai segalanya dari nol dengan cara yang sangat sederhana dan penuh perjuangan. Tanpa koneksi dan modal besar, ia berjuang menghidupi diri dengan menjual permen jahe dan kacang-kacangan di atas bus kota.
Di tengah hiruk-pikuk dan kerasnya kehidupan Jakarta, benih-benih kesadaran tumbuh dalam dirinya. Ia belajar bahwa kekuatan sejati bukanlah menakuti orang lain, melainkan kemampuan bertahan hidup dan memberi manfaat melalui jalan yang halal dan terpuji.
Perubahan yang dialami Sastra Suganda berlangsung secara drastis dan menyeluruh. Semangat belajar dan memperbaiki diri menjadi obor utamanya. Ia menempuh pendidikan tinggi di Persatuan wartawan reaksi cepat pelacak kasus (PWRCPK) dan berhasil menyelesaikan jenjang S1.
Pendidikan membuka wawasannya, dan ia pun menekuni dunia jurnalistik hingga dikenal luas sebagai wartawan andal yang akrab disapa “Amunisi”. Keberanian yang dulu digunakan untuk hal keliru, kini disalurkan untuk memperjuangkan kebenaran, menegakkan fakta, dan mengawal kepentingan publik.
Puncak dedikasinya bagi dunia ilmu pengetahuan terwujud saat ia mendirikan lembaga pendidikannya sendiri, yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Jurnalis Nakula Sadewa Nasional.
Dari sosok yang dulu berada di sisi hukum yang salah, kini ia berdiri sebagai pendiri kampus dan pendidik yang mencetak generasi muda. Posisi strategis juga ia emban sebagai Dewan Pakar di organisasi Asistensi Media Nasional (AsMEN).
Bahkan, kiprahnya semakin diakui secara nasional saat ia aktif berperan di lingkungan media berita kepolisian, menjadi narasumber utama, serta tenaga ahli dalam berbagai kegiatan pembinaan jurnalisme dan hukum.
Ironis namun mengagumkan: sosok yang dulu berhadapan dengan hukum, kini menjadi mitra strategis penegak hukum dalam menyebarkan informasi yang benar dan membangun.
Bukti Nyata: Orang Lampung Itu Berani Berubah dan Berbuat Baik
Di balik segala kesuksesan dan jabatan yang kini disandangnya, Sastra Suganda dikenal memiliki karakter yang sangat kontras dengan masa lalunya.
Ia tidak lagi menjadi sosok yang keras dan menakutkan, melainkan sosok yang rendah hati, murah hati, dan tidak pelit ilmu. Ia senantiasa berbagi pengalaman dan pengetahuan, serta ikhlas dalam berbuat kebaikan kepada siapa saja.
Perjalanan hidup Sastra Suganda adalah jawaban paling tepat atas pertanyaan: “Benarkah putra Lampung itu jahat?” Jawabannya tegas: Tidak.
Keberanian yang melekat pada karakter orang Lampung bisa saja tersalah alirkan di masa muda, namun kekuatan utama jiwa mereka adalah keberanian untuk berubah, belajar, dan bangkit.
Sastra membuktikan bahwa masa lalu hanyalah sejarah, namun masa depan ada di tangan kita. Dari seorang perampok dan pelaku kriminal di Lampung Tengah, ia bertransformasi menjadi pendidik, tokoh pers, dan pakar hukum yang namanya harum di kancah nasional. Keberhasilan ini bukan sekadar soal jabatan, melainkan kemenangan besar atas diri sendiri.
Sosoknya menjadi bukti bahwa orang Lampung bukanlah orang yang jahat, melainkan orang yang berani, teguh, dan mampu mengubah arah hidup menjadi kebaikan yang bermanfaat bagi banyak orang.
Penulis by Sutarno

















