Juli 28, 2026

Saat Hidup Lebih Kompleks daripada Doktrin, Kasih Adalah Wajah Kebenaran yang Sebenarnya

by

medianewstrn

medianewstrn.com

LONDON – Menyaksikan musikal legendaris The Book of Mormon di West End menjadi momen mendalam bagi penulis dan pengamat sosial Denny JA. Apa yang tampak sebagai komedi jenaka di permukaan, perlahan mengubah dirinya menjadi cermin tajam tentang makna iman, penderitaan, dan apa yang sesungguhnya dicari manusia ketika hidup sedang berada di titik terberat.

Kisah bermula dari dua misionaris muda yang datang dengan keyakinan penuh membawa kitab suci dan jawaban mutlak. Namun yang mereka temui adalah desa di Uganda yang terguncang wabah HIV, kelaparan, dan teror kekuasaan. Penduduk desa tidak mempertanyakan teologi; mereka hanya berusaha bertahan hidup hingga esok hari. Umpatan yang dinyanyikan warga bukan penolakan, melainkan jeritan jiwa yang mencari jalan keluar.

Di momen itulah pertanyaan besar muncul: ketika doktrin yang dihafal mati rasa, apakah manusia lebih membutuhkan kepastian yang kaku atau harapan yang mampu memeluk luka?

Denny JA menyoroti ironi mendalam dalam pertunjukan yang meraih sembilan penghargaan Tony Award itu. Ajaran yang disampaikan secara murni namun kaku gagal menyentuh hati. Sebaliknya, kisah yang dicampuradukkan dengan imajinasi populer justru menjadi jembatan harapan yang menyalurkan kekuatan untuk bangkit.

“Kebenaran yang tak mampu melahirkan kasih perlahan kehilangan daya hidupnya. Sebaliknya, kasih yang tulus kerap menjadi pintu tempat manusia perlahan menemukan makna kebenaran yang sesungguhnya,” tulis Denny dalam catatannya.

Ia merenungkan betapa seringnya perdebatan agama berputar pada kemenangan argumen, namun menjadi bisu di hadapan mereka yang kehilangan anak, pekerjaan, atau tempat bernaung. Merujuk pemikiran filsuf Søren Kierkegaard dan psikolog Bruno Bettelheim, ia mengingatkan bahwa manusia tidak hidup hanya dari fakta semata, melainkan juga dari makna dan harapan yang menopang jiwa.

Di era kecerdasan buatan yang menawarkan data presisi namun miskin rasa, pesan musikal ini kian relevan: dunia tidak berubah paling banyak oleh mereka yang memiliki argumen paling kuat, melainkan oleh mereka yang berani hadir tulus saat orang lain sedang terluka.

Menutup catatannya, Denny JA merenungkan pertanyaan sederhana namun mengguncang: “Apakah kita lebih sibuk mempertahankan kebenaran, atau sibuk menghidupkan kasih? Dan ketika seseorang membawa luka, apakah kita datang membawa jawaban, atau datang sebagai sahabat yang hadir?”

Pada akhirnya, seperti perempuan muda yang salah mengeja nama kota impiannya namun tetap melangkah ke sana, iman bagi banyak orang bukanlah peta yang sempurna. Iman adalah alasan untuk tetap melangkah. Dan barangkali, di penghujung segalanya, yang paling dipertanyakan bukanlah seberapa banyak kebenaran yang kita menangkan, melainkan seberapa besar kasih yang sempat kita hidupkan.

Wartawan sutarno

Berita Relevan