PARIS – Pertemuan kenegaraan antara Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto di Istana Élysée, Paris, menjadi momen penting yang membuka pandangan baru tentang arah perjuangan dua negara dalam menjaga kemerdekaan dan identitasnya di tengah dinamika dunia yang semakin kompleks dan terpecah menjadi berbagai kubu kekuasaan.
Sebagai saksi langsung acara tersebut, Denny JA yang hadir dalam kapasitas Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi, melihat pertemuan ini bukan sekadar seremonial diplomatik atau perjanjian kerja sama ekonomi, melainkan pertemuan dua pemimpin yang sama-sama bertekad tidak menjadi pengikut arus, melainkan berani menentukan jalannya sendiri.
Dalam tulisannya, ia mengawali pengamatannya dengan mengenang kisah sejarah tahun 1815, ketika Napoleon Bonaparte berhasil kembali memimpin Prancis bukan dengan kekuatan senjata, melainkan dengan kemampuan mengubah keyakinan orang banyak—sebuah pelajaran bahwa perubahan besar sejarah lahir dari visi dan keberanian pemimpin, bukan hanya kekuatan militer atau materi.
Baca Juga
Di tengah keindahan kota Paris yang bersejarah, di mana Menara Eiffel dan Sungai Seine menjadi saksi perjalanan panjang peradaban, terasa jelas bagaimana dunia saat ini sedang berada di titik balik.
Tiga puluh tahun setelah berakhirnya Perang Dingin, keyakinan akan tatanan dunia yang stabil kini mulai goyah: konflik di Eropa, ketegangan di Timur Tengah, persaingan kekuatan besar, hingga kemajuan teknologi yang mengubah peta kekuasaan, membuat banyak kepastian lama tidak lagi berlaku.
Di tengah situasi seperti inilah, kerja sama dan pandangan kedua negara menjadi sangat menarik. Prancis di bawah pimpinan Macron secara tegas mengusung gagasan otonomi strategis, yakni kemampuan Eropa untuk menjalin hubungan dengan negara manapun—termasuk sekutu utamanya—tanpa kehilangan kemampuan berpikir dan bertindak secara mandiri.
Gagasan ini telah tertuang jauh sebelumnya dalam buku karyanya Révolution, di mana ia menekankan pentingnya keterbukaan terhadap dunia tanpa mengorbankan identitas dan kedaulatan negara, sekaligus menolak sikap menutup diri atau menyerah sepenuhnya pada arus globalisasi.
Jalan yang ditempuh Macron tentu tidak mudah: ia harus menghadapi berbagai tantangan, protes masyarakat, serta perbedaan pandangan politik di dalam negaranya sendiri.
Sementara itu, Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto memiliki perjuangan yang berbeda namun memiliki semangat yang senada. Selama ini dikenal sebagai negara dengan kekayaan alam dan posisi strategis, namun potensi tersebut belum sepenuhnya diubah menjadi kekuatan nyata yang dirasakan seluruh rakyat.
Melalui diplomasi yang cermat, Indonesia berusaha berhubungan baik dengan semua pihak—baik negara Barat maupun negara lain di dunia—tanpa harus memihak salah satu kubu yang saling bersaing.
Gagasan ini telah digagas jauh sebelumnya dalam bukunya Paradoks Indonesia dan Solusinya, yang menyoroti pertanyaan mendasar: mengapa negara yang begitu kaya masih menyisakan banyak tantangan bagi kesejahteraan rakyatnya? Dari situ muncul komitmen untuk membangun kedaulatan di berbagai bidang, mulai dari pangan, energi, hingga pengembangan industri dan sistem pendidikan yang kuat.
Melalui perbandingan ini, terlihat sebuah pola baru yang mungkin menjadi ciri abad ke-21. Jika abad ke-20 ditentukan oleh negara-negara yang memiliki kekuatan terbesar, maka abad ini justru akan diwarnai oleh negara-negara yang mampu menjaga kebebasan memilih dan menjadi jembatan di tengah perpecahan dunia.
Prancis dan Indonesia sama-sama tidak termasuk negara yang paling kuat secara militer atau ekonomi, namun keduanya memiliki nilai yang sangat berharga: kemampuan berbicara dengan semua pihak tanpa menjadi milik salah satu kekuasaan.
Keduanya pun menyadari bahwa visi besar tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan dengan kerja keras dan strategi yang matang.
Berbagai tantangan masih menanti, mulai dari dukungan dana, sistem pemerintahan yang efektif, hingga kesediaan menghadapi berbagai hambatan yang akan datang.
Ketika meninggalkan Paris, tersisa satu kesimpulan penting: sejarah selalu berpihak kepada bangsa yang berani menentukan jalannya sendiri, di saat dunia di sekitarnya justru memaksa untuk memilih satu pihak.
Apakah upaya ini akan berhasil? Waktu yang akan menjawabnya, namun semangat kemerdekaan dan keberanian berpikir besar itulah yang menjadi modal utama perjalanan ini.
Reported by Sutarno














