JAKARTA – Di tengah peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 Tahun 2026 yang jatuh pada Rabu, 20 Mei 2026, semangat persatuan dan kesatuan kembali digaungkan sebagai jawaban strategis atas dinamika zaman yang semakin berat.
Timur Malaka Kiemas, seorang tokoh masyarakat dan aktivis yang dikenal luas memiliki rekam jejak panjang memperjuangkan hak-hak rakyat dan senantiasa berdiri bersama kaum lemah, menyampaikan pandangan mendalamnya mengenai makna peringatan bersejarah ini.
Baginya, momen kebangkitan bukan sekadar pengingat sejarah, melainkan panggilan luhur untuk menyatukan kembali seluruh elemen bangsa menghadapi ancaman krisis global yang kian nyata di depan mata.
Baca Juga
Dikenal sebagai sosok yang selama masa perjuangannya senantiasa menempatkan aspirasi dan kepentingan rakyat di garis terdepan, Timur Malaka Kiemas menegaskan bahwa jiwa kebangkitan nasional sejati lahir dari kesadaran untuk bersatu padu.
Pengalaman panjangnya berjuang berdampingan dengan masyarakat dari berbagai lapisan menjadikannya paham betul bahwa kekuatan terbesar bangsa ini bukan terletak pada kekayaan alam atau teknologi semata, melainkan pada keutuhan persaudaraan dan kemampuan para pemimpin untuk bersatu demi tujuan mulia bersama.
“Hari Kebangkitan Nasional adalah tonggak sejarah yang mengajarkan kita satu hal mutlak: bahwa kemerdekaan dan kedaulatan ini diraih dan dipertahankan karena kita bersatu. Saya yang dulu berjuang di barisan paling depan, berjuang menegakkan hak-hak rakyat, selalu meyakini bahwa kekuatan kita ada pada kebersamaan.
Dulu kami berjuang bersama rakyat, dan hari ini pun, kunci kemajuan bangsa tetaplah berada di tangan persatuan para pemimpin dan rakyatnya,” ujar Timur Malaka Kiemas dalam pernyataannya.
Lebih jauh, ia menyoroti situasi dunia yang saat ini sedang bergerak ke arah yang penuh ketidakpastian. Krisis global yang mengancam, gejolak ekonomi dunia, hingga berbagai tantangan multidimensi yang berdampak langsung pada stabilitas dan perekonomian Indonesia, dinilainya sebagai ujian berat yang menuntut kematangan dan kebijaksanaan seluruh elemen bangsa.
Menurutnya, menghadapi gelombang besar tantangan ini, perpecahan atau perdebatan yang tidak mendasar adalah kemewahan yang tidak boleh lagi dilakukan oleh anak bangsa.
Dalam konteks inilah, Timur Malaka Kiemas mengajukan gagasan strategis yang sangat relevan, yaitu perlunya gerakan rekonsiliasi besar-besaran di kalangan para pemimpin bangsa, baik dari pemerintahan, politik, maupun tokoh masyarakat dan organisasi.
Rekonsiliasi ini dimaknai sebagai upaya saling merangkul, menyingkirkan perbedaan dan ego masing-masing, serta menyatukan visi dan misi untuk memelihara ketahanan bangsa.
“Momentum Harkitnas ini harus kita jadikan titik tolak rekonsiliasi sejati antar seluruh pemimpin bangsa. Perbedaan pandangan, perbedaan latar belakang, atau perbedaan pilihan politik haruslah kita sisihkan demi satu tujuan
Penulis by Sutarno

















