BEKASI – Menghidupkan kembali jejak sejarah panjang warisan pendiri bangsa, Organisasi Reclasering Indonesia wilayah Kabupaten dan Kota Bekasi secara resmi diaktifkan kembali setelah sempat berada dalam masa vakum.
Keputusan strategis ini disepakati dalam pertemuan silaturahmi para pengurus yang berlangsung pada Senin, 18 Mei 2026, di wilayah Kabupaten/Kota Bekasi, dengan fokus utama merancang kebangkitan organisasi agar kembali berperan aktif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Senin 18 Mei 2026.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan khidmat ini dihadiri oleh jajaran pimpinan serta tokoh kunci organisasi, di antaranya Pak Nando selaku Ketua Reclasering Indonesia Kabupaten/Kota Bekasi, Bang Dias selaku pendamping organisasi, Sutarno (Pemimpin Media), Handoko (Pengurus), Ust. Abdul Rahman, Jaya, Bang Sahri, serta para peserta lainnya yakni Ratno Saputra dan Akhmad. Kehadiran seluruh elemen ini menandai langkah awal yang kokoh bagi pembenahan tata kelola dan penguatan peran organisasi di tengah masyarakat.
Baca Juga
Membuka jalannya rapat, Pak Nando menegaskan bahwa kebangkitan ini bukan sekadar pengaktifan kegiatan rutin, melainkan pelaksanaan amanah resmi yang diterima langsung dari Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Reclasering Indonesia.
“Tugas kita berat namun mulia, yaitu mengelola dan menjalankan organisasi ini jauh lebih baik, lebih terstruktur, dan lebih bermanfaat dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Langkah strategis pertama yang segera kita laksanakan adalah mengisi kekosongan struktur kepengurusan dengan unsur-unsur yang memiliki kemampuan nyata, kemauan bekerja keras, dan siap bergerak mengabdi di lapangan,” tegas Pak Nando dalam sambutannya, didampingi langsung oleh Bang Dias.
Pandangan mendasar mengenai arah gerak organisasi kemudian diuraikan oleh Bang Sahri. Ia menekankan bahwa kemajuan organisasi sangat bergantung pada kesatuan visi dan misi seluruh jajaran, mulai dari tingkat pimpinan hingga pelaksana. Lebih lanjut, ia mengingatkan agar setiap pengurus memegang teguh prinsip kerja sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsi masing-masing.
“Setiap program dan langkah kerja harus berjalan pada porsinya masing-masing. Hal ini penting agar tidak terjadi tumpang tindih wewenang maupun penyimpangan tujuan, sehingga organisasi dapat tumbuh sehat dan berkembang sesuai harapan kita bersama,” ujar Bang Sahri.
Pondasi nilai dan karakter organisasi kemudian dikukuhkan dalam pemaparan Ust. Abdul Rahman. Beliau menegaskan bahwa seluruh proses pembentukan kepengurusan baru harus ditempuh melalui jalan musyawarah untuk mencapai mufakat.
Lebih dalam lagi, beliau mengajak seluruh elemen organisasi untuk melakukan perubahan pola pikir, di mana nilai utama yang harus dijunjung tinggi adalah silaturahmi, persaudaraan, dan semangat pengabdian tanpa pamrih.
“Mari kita luruskan niat: jangan jadikan materi atau keuntungan pribadi sebagai tujuan akhir. Anggaplah segala sesuatu yang kita peroleh sebagai bonus dari hasil kerja keras dan pengabdian kita, bukan sasaran utama perjuangan ini,” pesan Ust. Abdul Rahman yang disepakati oleh seluruh peserta rapat.
Momen penuh makna tercipta saat Jaya mengingatkan kembali identitas agung organisasi ini. Dengan nada penuh keyakinan dan kebanggaan, ia menyampaikan, “Alhamdulillah, Reclasering Indonesia bukanlah organisasi yang lahir belakangan. Ini adalah organisasi lama yang dibentuk langsung oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.”
Warisan sejarah yang bernilai tinggi ini, menurut Jaya, menjadi tanggung jawab besar bagi generasi pengurus saat ini untuk mengembalikannya sebagai wadah harapan nyata yang mampu membawa manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
penulis by Tasya Alya

















