WASHINGTON – TEHERAN – Ketegangan yang sempat mereda seketika berubah penuh tanda tanya. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan untuk melanjutkan perundingan dengan Iran, namun dengan catatan tegas: jeda tempur telah berakhir. Pernyataan ini justru dibantah keras oleh Teheran, menciptakan kebingungan di tengah dunia yang mendambakan perdamaian.
Melansir Reuters, Trump menyampaikan lewat Truth Social: “Iran telah meminta kami melanjutkan pembicaraan, dan kami setuju. Namun kami tegaskan dengan tegas, gencatan senjata sudah tidak berlaku lagi.”
Klaim ini langsung ditolak mentah-mentah oleh Kementerian Luar Negeri Iran. Pihak Teheran menegaskan tak pernah mengajukan permohonan berunding, dan hanya menerima perantaraan Qatar. Utusan Doha sendiri telah bertemu pejabat Iran Jumat lalu untuk meredam tensi serta membahas keamanan Selat Hormuz. Sementara itu, Menlu Iran Abbas Araqhchi dijadwalkan berangkat ke Oman merumuskan skema jalur aman pelayaran.
Baca Juga
Syarat Keras dan Bayang-bayang Konflik
Di balik tawaran berunding, Washington menaruh tuntutan yang tak bisa ditawar: Iran harus berhenti menyerang kapal niaga, membuka Selat Hormuz sepenuhnya, dan mengeluarkan pernyataan publik menjamin kebebasan pelayaran. “Mereka harus menyatakan jalur ini terbuka dan tak lagi menembaki kapal,” tegas pejabat AS.
Ketegangan ini bermula saat Gedung Putih menuding Iran menyerang tiga kapal tanker di selat vital itu. Serangan balasan AS pun menghantam sasaran militer di enam kota Iran, yang kemudian dibalas dengan serangan balik ke aset AS di Timur Tengah. Bentrokan singkat namun mematikan ini telah merenggut 17 nyawa dan melukai 115 orang dalam dua hari.
Peliputan Sutarno

















