JAKARTA – Dalam suasana Rapat Paripurna ke-19 DPR RI yang berlangsung Rabu (20/5/2026), Presiden Prabowo Subianto berbicara secara terus terang dan penuh keberanian mengenai dinamika politik yang sedang terjadi, khususnya terkait sikap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang memilih untuk tidak masuk ke dalam barisan pemerintahan.
Di hadapan para anggota dewan dan jajaran pejabat negara, Prabowo membuka perasaannya secara jujur, mengakui bahwa kritik-kritik keras yang disampaikan politikus PDIP kerap membuat hatinya terasa pilu, bahkan sering terlintas dalam pikiran hingga menjelang waktu istirahatnya.
Prabowo mengungkapkan betapa beratnya menerima teguran dan penilaian tajam yang datang dari partai politik yang merupakan salah satu kekuatan utama bangsa ini.
Baca Juga
Menurutnya, nada dan isi kritik yang dilontarkan kawan-kawan dari PDIP terkadang terdengar begitu keras dan menusuk, hingga mengundang keprihatinan mendalam di hatinya.
“Kadang-kadang saya malam-malam sebelum tidur, pilu hati saya. Ini anggota PDIP ini kadang-kadang kritiknya keras banget itu,” ujar Prabowo dengan nada yang mencerminkan ketulusan perasaan, menggambarkan betapa serius dan dalam perhatiannya terhadap apa yang disampaikan oleh pihak oposisi tersebut.
Meskipun perasaannya sering kali tersentil dan merasa tidak enak hati mendengar penilaian yang keras itu, Prabowo tidak memandang hal tersebut sebagai permusuhan semata.
Beliau memiliki pandangan yang jauh lebih luas dan dewasa mengenai makna kritik dalam kehidupan bernegara. Baginya, suara sumbang dan teguran yang pedih itu sesungguhnya memiliki nilai luhur bagi keberlangsungan demokrasi dan kebaikan pemerintahan.
Prabowo memahami bahwa setiap kritik yang disampaikan tidaklah muncul tanpa dasar. Di balik setiap kata yang menyakitkan, terdapat kepedulian, harapan, atau pandangan lain yang perlu didengar.
Beliau menilai bahwa kritik, sekalipun terasa pahit, adalah sesuatu yang justru dapat menjadi penyelamat bagi jalannya pemerintahan agar tetap berada di jalur yang benar, berhati-hati, dan tidak tergelincir dari amanah rakyat.
“Kritik itu memang menyakitkan, namun kritik itu sering kali menyelamatkan kita. Saya memahami apa yang disampaikan itu ada alasannya, ada landasannya,” tegas Prabowo, menunjukkan kematangan jiwa kepemimpinannya dalam merespons dinamika politik.
Terkait sikap politik PDIP yang memilih untuk berdiri di luar pemerintahan dan mengambil peran sebagai kekuatan penyeimbang, Prabowo pun menyampaikan pandangannya secara terbuka.
Beliau mengaku pada awalnya memiliki harapan besar agar seluruh kekuatan politik dapat bersatu padu, sehingga tidak ada pihak yang berada di barisan oposisi dan seluruh energi bangsa dapat dicurahkan bersama dalam satu barisan pembangunan.
Namun, di tengah perbedaan pandangan dan keputusan politik yang berbeda arah itu, Prabowo menegaskan sikapnya yang penuh kedewasaan dan penghormatan tinggi.
Beliau menerima keputusan politik PDIP dengan lapang dada dan menghormati sepenuhnya hak konstitusional partai tersebut untuk menentukan sikap terbaik menurut keyakinan dan prinsip mereka.
Sebagai penutup pernyataannya yang sarat makna persatuan ini, Prabowo menyampaikan ungkapan terima kasih yang tulus kepada PDIP. Terima kasih itu ditujukan bukan hanya atas kontribusi besar partai tersebut bagi sejarah dan kemajuan bangsa Indonesia, tetapi juga atas kehadiran mereka sebagai kekuatan politik yang kritis.
Bagi Prabowo, keberadaan PDIP meski di luar kabinet tetaplah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga besar bangsa Indonesia, yang suaranya tetap didengar, dihargai, dan diperhitungkan dalam setiap langkah perjalanan negara ini menuju cita-cita bersama.
Wartawan by Dery Leorna

















