JAKARTA – Krisis dugaan korupsi di Badan Gizi Nasional yang menjatuhkan tiga mantan pimpinan tertinggi, harus menjadi titik balik reformasi total Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Alih-alih sekadar memberi makan anak, MBG dengan anggaran Rp335 triliun per tahun harus ditransformasi menjadi pasar pangan terbesar sekaligus penggerak ekonomi desa di tanah air.
Esensi perubahannya terletak pada desentralisasi dapur gizi. Pengadaan bahan pangan tidak boleh lagi dikuasai segelintir vendor besar, melainkan wajib diserahkan kepada petani, nelayan, peternak, UMKM, Koperasi, dan BUMDes setempat.
Baca Juga
Dengan cara ini, uang negara tidak berputar di lingkaran sempit, melainkan mengalir deras ke akar rumput, menciptakan efek berlipat ganda (multiplier effect) dan kepastian pasar yang selama ini didambakan rakyat kecil.
Konsep ini mengubah MBG menjadi investasi ganda: menciptakan generasi sehat cerdas sekaligus menanggulangi kemiskinan struktural. Contoh sukses telah ditunjukkan Brasil yang mewajibkan beli pangan sekolah dari petani lokal.
Syarat utamanya, tata kelola harus dibenahi total melalui sistem digital yang transparan dan dapat diawasi publik. Kepercayaan adalah modal mahal. Tanpa reformasi sistem, pergantian pejabat tidak akan berarti.
Bangsa besar bukan hanya yang memberi makan anaknya, tetapi yang menjadikan setiap piring makan sebagai jalan menuju kemandirian dan kesejahteraan rakyatnya.
Oleh : Deny JA.
Wartawan by Sutarno

















