JAKARTA – Hampir tiga milenium lalu, Homer menuliskan epik perjalanan pulang Raja Ithaca. Kini, Christopher Nolan menghidupkannya kembali dalam film The Odyssey yang tayang Juli 2026. Di balik gemerlap sinematografi dan petualangan penuh bahaya, Denny JA mengajak kita menengok makna terdalamnya: bahwa pulang sejati bukan sekadar tiba di tempat asal, melainkan berdamai dengan diri yang telah berubah lantaran perang, penderitaan, dan waktu yang berlalu. Kamis 16 Juli 2026.
Dalam renungan mendalam bertajuk Pulang ke Dalam Diri, Denny JA menyoroti momen paling menyentuh: ketika prajurit tiba di depan pintu rumah, namun mendapati anak yang dulu digendong kini menjelma lelaki dewasa, dan istrinya menatapnya seperti orang asing yang menyimpan nama lama. Kapal memang membawanya pulang, namun jiwanya masih tertinggal di medan pertempuran.
“Ada manusia yang tersesat karena tak tahu jalan pulang. Ada pula yang telah tiba di rumah, namun tak lagi mengenali dirinya sendiri. Keterasingan kedua ini jauh lebih sunyi. Tak ada peta yang menunjuknya, tak ada kompas yang memastikan arahnya,” tulis Denny JA.
Baca Juga
Trauma dan Makna di Balik Pengembaraan
Kisah Odysseus bukan sekadar kisah kemenangan melawan monster atau kecerdikan mengelabui dewa. Ia adalah cermin manusia modern yang terluka oleh perang—baik perang bersenjata maupun perang melawan kehilangan, rasa bersalah, pengkhianatan, hingga ambisi yang memakan jiwa. Menggandakan pemikiran Judith Lewis Herman dalam Trauma and Recovery serta Viktor Frankl melalui Man’s Search for Meaning, Denny JA menegaskan: seseorang mungkin telah meninggalkan tempat kekerasan, namun tempat itu belum tentu meninggalkan dirinya.
Pemulihan sejati bermula dari membangun kembali rasa aman, mengenang dan meratapi apa yang terjadi, hingga menyambungkan kembali diri dengan kehidupan dan makna hidup. Seperti yang dipaparkan Frankl, meski segala hal dapat dirampas, manusia tetap memiliki kebebasan menentukan sikap atas penderitaannya.
Rumah Sejati yang Berakar dalam Cinta
Versi Nolan yang diperankan Matt Damon ini menekankan pergulatan batin seorang veteran yang harus kembali menjadi suami, ayah, dan manusia utuh. Penelope tak langsung menerima suaminya, melainkan mengujinya lewat rahasia ranjang yang berakar pada pohon zaitun hidup—simbol bahwa rumah sejati bukan bangunan yang bisa dipindah, melainkan sesuatu yang tertanam dalam ingatan, kesetiaan, dan cinta.
“Odysseus memilih kehidupan berbahagia yang terbatas bersama yang dicintai, ketimbang keabadian yang sunyi. Barangkali surga bukan hidup tanpa kematian, melainkan memiliki seseorang yang membuat kita rela menerima kematian,” tulis Denny JA.
Perjalanan Terjauh Menuju Kebijaksanaan
Pada akhirnya, Denny JA mengajak kita merenung: keberhasilan di mata dunia belum tentu menjamin keutuhan jiwa. Kita mungkin menaklukkan dunia, jabatan, dan tepuk tangan, namun tetap merasa hampa di dalam. Pulang ke dalam diri bukan berarti kembali menjadi orang yang sama seperti dulu, melainkan menerima bahwa luka membentuk kita, namun tak boleh menguasai kita.
“Yang paling jauh bukanlah perjalanan dari Troya ke Ithaca. Yang paling jauh adalah perjalanan dari kemenangan menuju kebijaksanaan. Manusia tak benar-benar pulang saat kakinya tiba, melainkan saat jiwanya berhenti melarikan diri,” pungkas Denny JA.
Renungan ini ditulis Denny JA, 16 Juli 2026, dan merupakan bagian dari serangkaian tulisan yang dapat diakses di Denny JA’s World.

















