PADANG PARIAMAN – Jika ada penghargaan bagi wilayah yang paling lama dan paling sabar menanti terhubung kembali lewat jembatan, maka Nagari Anduring, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman,
Sumatera Barat, tak pelak lagi akan menjadi pemenang mutlak. Sejak bencana alam galodo atau banjir bandang dahsyat yang melanda di penghujung tahun 2025 lalu merobohkan dan menghanyutkan Jembatan Anduring, nasib mobilitas sekitar 30 ribu warga setempat seolah terputus dari dunia luar.
Sungai Batang Anai yang dulunya dilintasi dengan tenang, kini berubah menjadi rintangan besar yang memaksa warga menempuh risiko tinggi, bak para atlet arung jeram yang harus berjuang melawan derasnya aliran air demi menyeberang.
Baca Juga
Kondisi memprihatinkan ini kembali menjadi sorotan serius tingkat nasional. Pada Sabtu (9/5/2026), Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Andre Rosiade, turun langsung ke lokasi untuk meninjau puing-puing sisa bangunan jembatan yang menjadi kenangan itu. Ia didampingi oleh Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat, Elsa Putra Friandi.
Kunjungan ini bukan sekadar peninjauan rutin, melainkan langkah nyata untuk memastikan bahwa rencana pembangunan jembatan pengganti telah benar-benar masuk ke dalam daftar prioritas dan rencana kerja nyata, bukan sekadar menjadi daftar harapan atau daftar tunggu tanpa kepastian waktu.
Ponton Sederhana: Satu-satunya Jalan, Tarif Seikhlasnya, Nyawa Ditanggung Sendiri
Sejak jembatan itu hilang, kehidupan warga Nagari Anduring dan sekitarnya berubah total. Sungai Batang Anai kini berfungsi sebagai jalur lintasan darurat dengan memanfaatkan rakit atau ponton sederhana buatan warga. Sarana darurat ini menjadi satu-satunya harapan bagi pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor yang ingin menyeberang.
Sistem pembayaran pun dijalankan secara kekeluargaan, yakni “seikhlasnya saja”. Namun, di balik kesederhanaan itu, terselip bahaya nyata: keselamatan dan nyawa penyeberang sepenuhnya menjadi tanggungan masing-masing, bergantung pada keberanian dan kondisi arus sungai yang kerap berubah-ubah.
Bagi kendaraan roda empat, nasibnya jauh lebih sulit. Kapasitas ponton yang terbatas belum memungkinkan mobil melintas. Solusi satu-satunya yang tersedia adalah menempuh perjalanan memutar sejauh 15 hingga 20 kilometer melalui jalur alternatif yang sangat ekstrem. Jalur tersebut berkelok di pinggiran tebing curam dengan tikungan tajam, serta dihiasi lubang-lubang besar
yang kondisinya semakin parah, persis seperti harapan warga yang terasa dalam dan sulit terpenuhi. Jalur ini bukan hanya memakan waktu dan biaya lebih besar, tetapi juga menyimpan risiko kecelakaan yang tinggi bagi setiap kendaraan yang melintasinya.
Andre Rosiade: Pastikan Masuk Rencana, Bukan Sekadar Harapan
Melihat kondisi yang memilukan tersebut, Andre Rosiade menegaskan bahwa isolasi yang dialami warga Anduring sudah terlalu lama berlangsung. Terputusnya akses ini berdampak langsung pada kehidupan ekonomi, sosial, hingga pelayanan kesehatan dan pendidikan masyarakat.
Tidak adil rasanya jika ribuan warga harus terus berjuang melawan alam dan mengambil risiko nyawa hanya karena fasilitas vital penghubung wilayah belum kunjung terbangun kembali.
“Kami datang ke sini untuk memastikan, bahwa jembatan yang hilang ini sudah masuk dalam daftar rencana pembangunan, bukan hanya masuk daftar tunggu atau daftar harapan warga saja. Warga sudah terlalu sabar menunggu, sudah terlalu lama berkorban menempuh risiko.
Negara harus hadir, negara harus memulihkan konektivitas ini, karena ini adalah hak dasar warga untuk mendapatkan akses jalan yang aman dan layak,” tegas Andre di lokasi peninjauan.
Sementara itu, Kepala BPJN Sumbar, Elsa Putra Friandi, menyatakan bahwa pihaknya memahami urgensi pembangunan Jembatan Anduring. Peninjauan ini menjadi langkah awal untuk menyusun rencana teknis dan memastikan dukungan anggaran tersedia agar pembangunan dapat segera direalisasikan. Kehadiran perwakilan DPR RI diharapkan dapat memperkuat dorongan agar proyek strategis ini mendapatkan prioritas tinggi dalam skala nasional.
Warga Nagari Anduring kini kembali menaruh harap besar. Di tengah derasnya arus Batang Anai dan sisa-sisa puing di dasar sungai, mereka berharap kehadiran pemerintah dan para wakil rakyat ini menjadi titik balik.
Agar tak lama lagi, kata “sabar menunggu” tak lagi menjadi identitas wilayah mereka, melainkan diganti dengan jembatan kokoh yang kembali menyatukan wilayah, memulihkan ekonomi, dan menjamin keselamatan nyawa setiap warga yang melintas.
Reporter by Tasya Alya
Sumber foto ( Ratastv Group )

















