PARIS – Saat merayakan Idul Adha 1447 H bersama masyarakat Indonesia dan Presiden Prabowo Subianto di Paris, Denny JA merenungkan pertanyaan besar: bisakah seseorang tetap Muslim yang setia, namun sekaligus menjadi warga negara Perancis seutuhnya?
Di negeri yang menjunjung prinsip sekularisme laïcité, Islam kini menjadi bagian dari masyarakat. Tantangan besarnya adalah menyelaraskan iman dengan nilai republik, sebagaimana terumuskan dalam panduan Islam Perancis terbit tahun 2026.
Dari pengamatan dan kajiannya, Denny JA merumuskan tiga pesan utama:
Baca Juga
1. Identitas adalah jembatan, bukan penjara. Seseorang bisa beriman sekaligus mencintai negara, tanpa harus memilih salah satu. Kamis 28 Mei 2026.
2. Sekularisme tidak anti agama. Prinsip ini lahir dari sejarah untuk menjaga kenetralan negara, bukan menghapus kebebasan beragama.
3. Kunci masa depan adalah koeksistensi. Kemampuan hidup berdampingan tanpa saling meniadakan adalah ujian terbesar peradaban modern.
Menurut kajian para ahli, masalah ini adalah soal identitas nasional, bukan sekadar agama. Mayoritas Muslim Perancis hanya ingin diakui sebagai warga negara yang sah dan setara.
Denny JA menegaskan, Indonesia dengan nilai Pancasila memiliki pengalaman berharga: persatuan justru kokoh saat perbedaan dirayakan.
Akhirnya, ia menyimpulkan bahwa penyelamat dunia nanti bukan kemenangan satu kelompok, melainkan kemampuan berbagi langit yang sama dalam keberagaman.
Wartawan by Alan

















