JAKARTA – Pidato Presiden Prabowo Subianto pada peringatan Harlah ke-28 PKB yang menyematkan istilah bermuatan sejarah “londo ireng” kepada kalangan wartawan, pengamat, dan LSM terus memicu perdebatan luas.
Dalam tulisannya, Naek Pangaribuan menegaskan: setiap pemimpin berhak mengkritik, namun pelabelan yang membawa stigma negatif terhadap satu profesi secara umum harus dihindari.
Secara historis, “londo ireng” merujuk pada pribumi yang dianggap menjadi kaki tangan penjajah dan mengkhianati bangsa. Ketika istilah itu disandingkan dengan profesi wartawan, pengamat, maupun LSM, muncul kesan umum bahwa kelompok tersebut bekerja untuk kepentingan asing—padahal banyak insan pers dan aktivis yang selama ini menjaga integritas serta mengawal kepentingan rakyat.
Baca Juga
Pers merupakan pilar demokrasi yang dilindungi UUD 1945 dan UU Pers No.40 Tahun 1999. Tugasnya bukan sekadar memberitakan hal yang menyenangkan penguasa, melainkan mengungkap fakta dan menjalankan fungsi kontrol sosial. Demikian pula LSM yang banyak berkontribusi mengawasi anggaran dan memperjuangkan keadilan. Adanya oknum yang menyalahgunakan jabatan tidak boleh dijadikan alasan untuk mencoreng seluruh profesi.
Reaksi PWI DKI Jakarta dan AJI wajar dimaknai sebagai peringatan agar ucapan pemimpin negara tetap menjaga etika komunikasi publik. Meski demikian, kritik juga sebaiknya tetap proporsional: kita tidak boleh menutup mata terhadap penyimpangan yang mungkin terjadi di kalangan pers maupun LSM. Namun, teguran akan jauh lebih efektif jika ditujukan pada oknum, bukan meleburkan semua dalam satu tuduhan umum.
Sejarah mencatat peran besar wartawan dalam memperjuangkan kemerdekaan dan mendorong reformasi. Oleh karena itu, hubungan pemerintah dan pers seharusnya berlandaskan saling menghormati, bukan saling mencurigai. Demokrasi membutuhkan kritik yang bertanggung jawab, bukan pelabelan yang mencederai lembaga demokrasi itu sendiri.
Pada akhirnya, kata-kata seorang Presiden bukan sekadar pidato, melainkan cerminan arah persatuan bangsa. Negara kuat bukan karena kritik dibungkam, melainkan karena kritik diterima dan dihargai sebagai bagian dari upaya bersama memajukan bangsa.
Wartawan by Sutarno

















