Cabai Merah Jadi Biang Kerok Utama, Harga Melonjak Hingga 38%

by

medianewstrn

medianewstrn.com

JAKARTA – Gelombang kenaikan harga kebutuhan pokok kembali melanda tanah air. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data resmi yang menunjukkan tingkat inflasi pada bulan Mei 2026 mengalami lonjakan yang cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.

Angka inflasi yang merangkak naik ini ternyata sebagian besar dipicu oleh melonjaknya harga komoditas cabai, di mana cabai merah dan cabai setan menjadi penentu utama yang menggerakkan indeks harga konsumen ke arah yang lebih tinggi, dengan kenaikan yang mencapai angka fantastis hingga 38 persen di beberapa wilayah pusat perdagangan.Rabu 3 Juni 2026.

Kenaikan harga yang terjadi pada kedua jenis cabai andalan masyarakat Indonesia ini terasa sangat menyengat dan terasa langsung di kantong setiap lapisan masyarakat.

Di pasar-pasar tradisional maupun modern, harga per kilogram cabai merah dan cabai setan yang sebelumnya masih dalam batas wajar, kini melonjak tajam hingga hampir dua kali lipat dalam kurun waktu satu bulan saja.

Fenomena ini menjadikan komoditas yang menjadi bumbu utama hampir di setiap masakan nusantara ini sebagai biang kerok utama yang mendorong laju inflasi nasional pada periode pelaporan kali ini.

Berbagai faktor kompleks menjadi penyebab utama melonjaknya harga “emas merah” tersebut. Gangguan cuaca ekstrem yang terjadi di daerah-daerah sentra produksi, serangan hama tanaman, serta berkurangnya pasokan hasil panen petani menjadi alasan teknis yang tak terbantahkan.

Di samping itu, arus distribusi yang terkendala di beberapa jalur transportasi dan tingginya biaya logistik turut memperberat beban, sehingga saat barang sampai di pasar konsumen, harganya telah membumbung tinggi di luar kendali.

Kondisi ini memicu reaksi berantai yang sangat terasa. Para pedagang mengeluh karena permintaan mulai menurun seiring melambungnya harga, sementara ibu rumah tangga dan masyarakat umum harus menyesuaikan anggaran belanja harian dengan kondisi yang sangat membebani. Rasa pedas yang biasa dinikmati dalam setiap suapan masakan, kini berubah menjadi “pedas” yang menyakitkan bagi perekonomian rumah tangga.

Selain cabai merah dan cabai setan yang menjadi penyumbang terbesar lonjakan biaya hidup, kenaikan harga juga turut terjadi pada beberapa komoditas pangan lain seperti bawang merah, minyak goreng, serta beberapa jenis sayuran musiman, namun besaran kenaikannya tidak se-drastis dan se-dominan yang dialami oleh komoditas cabai.

Pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait telah menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi ini dan tengah bergerak cepat merumuskan langkah-langkah strategis.

Berbagai upaya sedang disiapkan, mulai dari membuka jalur distribusi alternatif, mendatangkan pasokan dari daerah penyangga, hingga memberikan insentif bagi para petani agar segera dapat meningkatkan kembali volume tanam guna menambah stok di pasar.

Lonjakan harga cabai yang mencapai angka 38 persen ini menjadi peringatan keras bahwa ketahanan pangan nasional masih sangat rentan terhadap perubahan alam dan kendala rantai pasok.

Diperlukan strategi jangka panjang yang lebih matang dan komprehensif agar fluktuasi harga yang tajam seperti ini tidak terus-menerus berulang dan membebani perekonomian rakyat serta stabilitas keuangan negara.

Masyarakat pun berharap langkah penanganan yang diambil pemerintah dapat segera membuahkan hasil, sehingga harga-harga kebutuhan pokok, khususnya si “pedas” yang satu ini, dapat segera kembali normal, terjangkau, dan tidak lagi menjadi beban berat yang memicu laju inflasi di tanah air.

Reported by Sutarno

Berita Relevan