JAKARTA – Pergerakan nilai tukar Rupiah yang terus tertekan hingga menyentuh ambang psikologis Rp17.800 per Dolar Amerika Serikat dinilai sebagai fenomena yang tidak masuk akal dan tidak memiliki landasan ekonomi yang kuat.
Hal ini disampaikan secara tegas oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menegaskan bahwa kondisi struktur dan fundamental ekonomi nasional saat ini justru berada dalam keadaan kokoh, sehat, dan berjalan baik.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Purbaya saat memberikan keterangan pers di lingkungan kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jakarta Selatan, Rabu (27/05).
Baca Juga
Menurut pandangannya, logika ekonomi yang umum berlaku mengajarkan bahwa pelemahan nilai mata uang biasanya terjadi apabila terdapat gangguan serius, ketimpangan, atau ketidakstabilan pada sektor-sektor fundamental perekonomian. Namun, realitas yang terjadi saat ini justru sebaliknya.
“Ekonomi kita sesungguhnya dalam keadaan bagus dan tumbuh sehat. Fenomena pelemahan ini terjadi justru di saat fundamentalnya sangat kuat.
Secara teori dan akal sehat, hal ini tidak masuk akal. Biasanya mata uang melemah apabila ada gangguan, tekanan, atau masalah mendasar di struktur ekonomi. Namun saat ini, hal itu tidak kita alami,” ujar Purbaya dengan lugas.
Stres Tes APBN Dinilai Tidak Lagi Diperlukan
Di tengah ketidakpastian pasar keuangan dan gejolak nilai tukar yang masih berlangsung, Menteri Keuangan memastikan bahwa pemerintah tidak akan melakukan uji ketahanan atau stress test ulang terhadap
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan didasari oleh perhitungan matang dan simulasi mendalam yang telah dilakukan pemerintah sebelumnya.
Purbaya menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan skenario ketahanan fiskal yang sangat luas dan keras.
Perhitungan dan simulasi risiko sudah pernah dilakukan ketika harga minyak mentah dunia sempat menyentuh angka US$100 per barel, lengkap dengan berbagai asumsi pergerakan nilai tukar yang sangat beragam dan ekstrem. Berdasarkan data tersebut, posisi keuangan negara dinilai aman, terjaga, dan tidak tergoyahkan.
“Tidak ada kebutuhan untuk melakukan stress test baru. Kami sudah menghitung dan memetakan seluruh risiko jauh hari sebelumnya. Semuanya sudah terukur dan aman.
Jadi, tidak ada masalah berarti, dan saya tidak perlu menghitung ulang atau menyesuaikan struktur APBN kita karena pergerakan ini,” tegasnya, meyakinkan publik bahwa posisi fiskal negara tetap kokoh menjadi benteng perekonomian.
Pemerintah Turun Tangan Kendalikan Imbal Hasil Obligasi
Lebih jauh, untuk menjaga stabilitas pasar keuangan secara menyeluruh, Purbaya juga mengonfirmasi langkah strategis pemerintah yang turun tangan secara aktif menjaga pergerakan imbal hasil (yield) surat utang negara atau obligasi.
Langkah intervensi ini dilakukan agar pergerakan imbal hasil tidak bergerak terlalu liar, tidak membebani biaya pembiayaan negara secara berlebihan, dan tetap selaras dengan kondisi ekonomi makro yang sebenarnya.
Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya terpadu pemerintah dan otoritas moneter untuk memastikan bahwa gejolak eksternal maupun spekulasi pasar tidak merusak sendi-sendi utama ekonomi nasional.
Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau perkembangan pasar secara cermat dan siap mengambil langkah-langkah terukur lainnya guna mengembalikan nilai tukar Rupiah ke level yang mencerminkan kekuatan ekonomi sesungguhnya, sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan nasional yang sedang berjalan.
Reported by Latifah Jauwas

















