JAKARTA – Dewan Penasihat DPP Gerakan Pemuda Marhaenis, Toto Sukarnoputra, mengeluarkan peringatan tegas kepada seluruh kader: Marhaenisme adalah kekuatan pemersatu, bukan senjata untuk saling merendahkan akibat perbedaan organisasi atau pilihan politik. Ia mengajak kader meninggalkan sikap merasa paling benar dan mengedepankan persatuan di atas ego kelompok.
Dalam pandangannya, warisan Bung Karno menempatkan persatuan sebagai fondasi utama bangsa yang beragam. Namun semangat itu sering hanya diucapkan dalam pidato sementara di lingkungan internal justru tumbuh sekat antarkader. Toto menegaskan bahwa bergabung dalam organisasi atau partai tertentu bukan berarti seseorang paling memahami Marhaenisme; identitas hanyalah label, bukan bukti pengamalan ideologi.
“Marhaenisme harus dibuktikan lewat tindakan nyata: berpihak pada rakyat kecil dan melawan ketidakadilan,” ujarnya. Menurutnya, perbedaan jalur kaderisasi dan kendaraan politik tetap boleh ada, tetapi harus dihadapi lewat dialog dan kedewasaan, bukan klaim sepihak bahwa hanya satu kelompok yang paling berhak mengatasnamakan ajaran tersebut.
Ia menekankan bahwa ukuran sejati seorang Marhaenis ada pada kontribusi nyata bagi masyarakat. Kader boleh memiliki “rumah organisasi” yang berbeda, selama tetap berpegang pada cita‑cita melayani rakyat. Marhaenisme seharusnya menjadi jembatan merangkul sesama, bukan tembok untuk saling meniadakan.
Toto mengajak seluruh elemen untuk merenung: perjuangan Indonesia tidak akan kuat bila sesama pejuang sibuk saling menjatuhkan. Ideologi baru bermakna bila mampu menyatukan kader melampaui batas organisasi, tetap teguh pada prinsip serta komitmen kepada rakyat.
(Pewarta: Dimas dan Megan)















