Juli 22, 2026

Mengapa Lebih dari Separuh Penduduk Eropa Memelihara Hewan? Jejak 15.000 Tahun Ikatan Abadi Manusia dan Anjing

by

medianewstrn

medianewstrn.com

JAKARTA – Suatu pagi musim dingin di Tokyo, seorang pria tua berhenti sejenak di depan sebuah patung. Ia meletakkan setangkai bunga, membungkuk hormat, lalu menyentuh kepala patung itu seolah sedang menyapa sahabat tercinta yang telah lama tiada.

Bagi orang yang lewat, itu hanyalah sekadar rutinitas sederhana. Namun di balik patung anjing bernama Hachikō itu tersimpan sebuah kisah yang telah menggetarkan hati dunia selama hampir satu abad: bukti nyata bahwa kesetiaan paling murni sering kali datang dari makhluk yang tak pernah mampu mengucapkan sepatah kata pun.Sabtu 20 Juni 2026.

Legenda Hachikō: Simbol Kesetiaan yang Melampaui Kematian

Hachikō lahir pada tahun 1923 di wilayah Akita, Jepang, dan setahun kemudian menjadi sahabat dekat Profesor Hidesaburō Ueno, pakar pertanian terkemuka dari Universitas Tokyo.

Terjalinlah sebuah rutinitas yang sederhana namun penuh makna: setiap pagi Hachikō mengantar tuannya ke Stasiun Shibuya, dan setiap sore ia kembali ke tempat yang sama untuk menjemput kepulangannya.

Namun takdir berbicara lain. Pada 21 Mei 1925, Profesor Ueno meninggal dunia secara mendadak akibat pendarahan otak saat sedang mengajar, dan tak pernah kembali ke stasiun itu. Hachikō yang tidak memahami makna kepergian abadi itu tetap setia pada janji hatinya.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun—selama hampir satu dasawarsa, ia terus datang ke tempat yang sama, menunggu di bawah terik matahari, di tengah guyuran hujan, hingga di balik dinginnya salju musim dingin.

Kisah itu menyebar luas setelah dimuat harian Asahi Shimbun pada tahun 1932, mengangkat Hachikō menjadi simbol nasional kesetiaan. Dua patung didirikan untuk mengenangnya: satu di depan Stasiun Shibuya sebagai pengingat akan penantiannya yang tak berkesudahan, dan satu lagi di Universitas Tokyo yang menggambarkan mimpi pertemuan kembali yang tak pernah terwujud.

Melalui kisah ini, manusia menemukan cerminan diri sendiri: kerinduan mendalam akan cinta yang tak tergoyahkan meski harapan telah sirna.

15.000 Tahun Evolusi Bersama: Lebih dari Sekadar Hubungan Pemilik dan Hewan

Ikatan yang terjalin antara manusia dan anjing bukanlah sekadar kebetulan atau kebiasaan semata. Berdasarkan penelitian ilmiah yang mendalam, hubungan ini merupakan hasil dari proses evolusi bersama yang berlangsung selama 15.000 hingga 30.000 tahun.

Dalam kajian yang dipublikasikan di jurnal Science tahun 2002, peneliti Brian Hare dan timnya membuktikan bahwa selama proses domestikasi, anjing secara biologis berkembang mengembangkan kemampuan unik untuk memahami bahasa tubuh, tatapan, dan isyarat sosial manusia—bahkan melebihi kemampuan kerabat terdekatnya, yaitu serigala.

Manusia memilih anjing yang lebih ramah dan peka, sementara anjing memperoleh tempat tinggal dan perlindungan. Sebagai timbal balik, kehadiran mereka membantu manusia bertahan hidup, berburu, dan membangun peradaban. Sebagaimana kesimpulan ilmuwan: “Kita tidak hanya menciptakan anjing. Anjing juga ikut menciptakan kita.”

Lebih dalam lagi, penelitian yang dipimpin Miho Nagasawa dan diterbitkan juga di Science tahun 2015 mengungkapkan rahasia biologis di balik ikatan itu. Ketika manusia dan anjing saling menatap, terjadi peningkatan kadar hormon oksitosin—yang dikenal sebagai hormon cinta dan keterikatan—pada kedua belah pihak.

Mekanisme ini sama persis dengan reaksi yang terjadi ketika seorang ibu memandang bayinya. Inilah sebabnya mengapa jutaan orang merasa hewan peliharaan mereka bukan sekadar hewan, melainkan bagian tak terpisahkan dari keluarga.

Melengkapi gambaran itu, studi dari Lisa Horn dan timnya tahun 2013 dalam jurnal PLOS ONE menemukan adanya efek dasar keamanan. Sama seperti anak yang merasa berani menjelajah dunia saat didampingi orang tuanya, anjing pun menunjukkan rasa percaya diri dan kemampuan belajar yang jauh lebih baik ketika pemiliknya berada di dekatnya. Hubungan ini memenuhi kebutuhan emosional paling mendasar: rasa aman, diterima, dan dicintai tanpa syarat.

Fenomena Eropa: Mengapa Hewan Peliharaan Menjadi Penopang Jiwa Modern

Fakta menarik terungkap dalam data Federasi Industri Makanan Hewan Peliharaan Eropa (FEDIAF): lebih dari separuh rumah tangga di seluruh benua itu kini memelihara hewan peliharaan, dengan jumlah total mencapai lebih dari 160 juta ekor.

Di tengah kehidupan kota yang serba cepat, individualistik, dan didominasi oleh teknologi, hewan peliharaan bertransformasi menjadi infrastruktur emosional yang sangat berharga.

Perubahan ini muncul menjawab tantangan zaman. Struktur keluarga yang semakin mengecil, meningkatnya jumlah orang yang hidup sendiri, hingga masalah kesepian yang diakui sebagai ancaman kesehatan publik mendorong manusia mencari bentuk hubungan yang tulus dan stabil.

Berbeda dengan hubungan manusia yang sering kali dibayangi kepentingan, status, atau transaksi, ikatan dengan hewan hadir dalam bentuk paling murni: tanpa syarat, tanpa penghakiman, dan tanpa pamrih.

Bagi banyak orang, kehadiran hewan peliharaan juga menjadi obat bagi kegelisahan batin. Interaksi dengan mereka terbukti secara ilmiah menurunkan tingkat stres, menstabilkan tekanan darah, serta memberikan rasa tenang yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk persaingan dunia.

Pandangan manusia pun telah berubah: dari sekadar menganggap hewan sebagai alat kerja atau penjaga rumah, kini semakin luas mengakui mereka sebagai makhluk yang memiliki perasaan, kebutuhan, dan hak untuk diperlakukan dengan penuh kasih sayang.

Di Tengah Kehidupan Modern: Cinta yang Tak Berharga

Penulis sendiri merasakan kebenarn ini melalui pengalaman sederhana: setiap malam, setelah beraktivitas dalam dunia yang penuh ambisi, urusan, dan hiruk-pikuk, ia menemukan kedamaian mendalam hanya dengan duduk diam di depan akuarium lautnya.

Di sana, di antara gerakan tenang ikan dan terumbu karang, hadir sebuah kehadiran yang tidak menuntut apa-apa, namun memberikan ketenangan yang sulit dicari di tempat lain.

Selama 15.000 tahun perjalanan bersama, manusia dan anjing—serta hewan peliharaan lainnya telah saling melengkapi. Kita memberi mereka tempat tinggal dan kasih sayang, namun mereka memberi kita sesuatu yang jauh lebih berharga: rasa diterima apa adanya.

Sejarah panjang ini mengajarkan satu kebenaran hakiki: ukuran kemajuan sebuah peradaban tidak hanya dilihat dari seberapa hebat manusia menguasai teknologi, membangun gedung pencakar langit, atau melaju dalam persaingan. Kemajuan sejati juga terukur dari bagaimana kita menghargai dan membalas cinta makhluk yang telah setia berjalan di sisi kita selama ribuan tahun.

Di era kecerdasan buatan dan dunia yang semakin terhubung secara digital, hubungan paling manusiawi sering kali justru ditemukan dalam kebersamaan yang sederhana namun tulus dengan hewan peliharaan.

Wartawan by Sutarno

Oleh Deny JA.

Berita Relevan