JAKARTA – Kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terus menjadi sorotan tajam di tengah sederet tantangan ekonomi yang belum sepenuhnya teratasi. Harga kebutuhan pokok yang masih bergejolak, ketersediaan lapangan kerja, hingga melemahnya daya beli masyarakat kerap menjadi bahan kritik terhadap efektivitas kebijakan yang diambil.
Di tengah suasana tersebut, pernyataan Presiden Prabowo yang berbunyi “kalau beras mahal, tanam padi sendiri” memicu reaksi beragam di kalangan masyarakat maupun pengamat ekonomi. Sebagian pihak menilai pernyataan itu belum menyentuh akar masalah yang sesungguhnya dihadapi rakyat: bagaimana pemerintah menjaga stabilitas harga, menjamin ketersediaan pasokan yang merata, serta melindungi daya beli kelompok berpenghasilan rendah yang bahkan sulit menanam lahan sendiri.
Sebaliknya, kalangan pendukung memandang pernyataan tersebut sebagai seruan untuk bangkit membangun kemandirian pangan nasional, mengurangi ketergantungan, dan mengajak masyarakat berperan aktif menjaga ketahanan pangan keluarga.
Baca Juga
Polemik ini secara nyata menunjukkan betapa krusialnya komunikasi publik pemerintah dalam membangun kepercayaan rakyat, terutama saat perekonomian masih menghadapi tekanan. Setiap kata yang diucapkan pemimpin negara memiliki bobot besar dan langsung membentuk persepsi publik.
Di atas segala perbedaan pandangan, harapan masyarakat tetap sama: hadirnya kebijakan yang memberikan kepastian hukum dan ekonomi, serta solusi nyata yang dapat dirasakan dampaknya secara langsung, bukan sekadar seruan yang terasa jauh dari kenyataan sehari-hari yang dihadapi rakyat kecil.
Wartawan sutarno

















