JAKARTA – Kepercayaan adalah fondasi utama yang menopang setiap hubungan antarmanusia, baik dengan pasangan, keluarga, maupun rekan kerja. Namun bagi banyak orang, memberikan kepercayaan bukanlah hal yang mudah. Luka masa lalu akibat pengkhianatan atau kebohongan kerap membangun benteng pertahanan yang begitu kokoh, hingga pada akhirnya justru mengisolasi diri sendiri.
Kewaspadaan memang wajar sebagai bentuk perlindungan diri. Namun jika berlebihan, sikap itu perlahan mengubah hubungan menjadi kaku, dingin, dan menjauhkan ikatan emosional yang seharusnya hangat. Mengutip kajian psikologi Get Nebbi, terdapat tujuh ciri khas seseorang yang mendapati dirinya sulit kembali mempercayai orang lain:
Pertama, mudah mencurigai segala hal. Setiap kebaikan yang datang selalu diduga menyimpan maksud tersembunyi; setiap perkataan dan pesan diperiksa dengan teliti hanya untuk menemukan celah kebohongan yang belum tentu ada.
Baca Juga
Kedua, menutup diri dari cerita pribadi. Ketakutan informasi akan disalahgunakan membuat hubungan hanya berjalan di permukaan, tak pernah mampu merambah ke kedalaman kebersamaan yang sejati.
Ketiga, terjebak dalam pikiran berlebih. Pesan yang terlambat dibalas atau perubahan nada bicara sekecil apa pun langsung dianalisis berlebihan, kerap menarik kesimpulan negatif tanpa didasari bukti yang nyata.
Keempat, memutus hubungan lebih dulu. Mengambil langkah mundur sebelum terlanjur dekat, dengan alasan lebih baik mencegah diri terluka daripada harus merasakan kekecewaan yang mendalam.
Kelima, terus-menerus menuntut kepastian. Pertanyaan “apakah kamu sungguh-sungguh?” terus diulang, kecemasan muncul saat komunikasi terputus sesaat, sehingga hubungan menjadi beban yang melelahkan bagi kedua belah pihak.
Keenam, tak pernah merasa aman. Pikiran senantiasa melayang pada skenario terburuk: ditinggalkan, dibohongi, atau dikhianati. Fokus tertuju pada kemungkinan kegagalan, bukan pada upaya membangun kebersamaan.
Ketujuh, menjaga jarak secara emosional. Tampak akrab dan ramah di luar, namun hati dan perasaan sejati tetap terkunci rapat. Mengira menjauh adalah cara paling ampuh agar tak terluka saat perpisahan tiba.
Padahal, sikap ini perlahan menghalangi orang lain untuk mengenal dan mendekat. Kepercayaan memang tak tumbuh dalam semalam, namun bukan berarti tak bisa dipulihkan. Lewat komunikasi yang jujur, keterbukaan yang dibangun bertahap, serta kesediaan untuk kembali melangkah, ikatan yang lebih sehat dan kokoh masih sangat mungkin untuk diwujudkan kembali.
Wartawan sutarno













