Membedah Pandangan Derajat Wanita dan Laki-Laki Menurut Mbah Hadi Sumarno

by

medianewstrn

medianewstrn.com

BOGOR  – Persoalan kedudukan, derajat, dan peran antara laki-laki dan perempuan merupakan salah satu wacana filsafat, sosial, dan budaya yang senantiasa bergulir sepanjang sejarah peradaban manusia.

Dalam banyak narasi tradisional maupun penafsiran norma yang berkembang di masyarakat, kerap melekat doktrin bahwa perempuan memiliki kedudukan yang lebih rendah, lemah, atau berada di bawah kendali laki-laki. Kamis 28 Mei 2026

Pandangan ini, menurut Sesepuh Mbah Hadi Sunarno, memerlukan pembedahan mendalam dan penafsiran ulang berbasis realitas empiris serta kontribusi nyata perempuan dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan.

Dalam uraian pemikirannya yang mendalam dan kritis, Mbah Hadi Sumarno menegaskan bahwa anggapan mengenai inferioritas perempuan adalah konstruksi pemahaman yang sempit, tidak menyeluruh, dan kerap kali hanya menilik satu sisi saja. “Kita telah didoktrin sedemikian rupa untuk meyakini bahwa wanita itu lemah dan derajatnya berada di bawah laki-laki.

Namun, jika kita menelisik lebih jauh dan melihat fakta objektif di hadapan mata, sesungguhnya kedudukan dan kemampuan wanita adalah sejajar dan setara dengan laki-laki,” ungkap beliau membuka paparan gagasannya.

Secara ilmiah dan sosiologis, kemampuan manusia tidak lagi dapat dikelompokkan secara kaku berdasarkan jenis kelamin semata. Mbah Hadi menjabarkan bukti nyata kesetaraan fungsi dan kapabilitas tersebut melalui berbagai ranah aktivitas manusia.

Perempuan, dalam pengamatan sejarah dan masa kini, terbukti memiliki daya pikir yang tajam, kecerdasan analitis, dan kemampuan eksekusi yang setara bahkan melampaui laki-laki dalam banyak hal.

“Wanita mampu melakukan segala jenis pekerjaan dan tugas yang selama ini dianggap ranah laki-laki. Ia dapat mengemudikan kendaraan, berkarya dalam seni dan ilmu pengetahuan, mengelola organisasi, hingga memimpin sebuah negara.

Di sisi lain, ada pula kemampuan spesifik yang menjadi keunggulan perempuan—seperti mengurus rumah tangga, memasak, atau mengelola detail kehidupan—yang justru kerap kali sulit atau bahkan tidak mampu dilakukan oleh laki-laki,” jelas Mbah Hadi dengan argumentasi yang logis.

Lebih jauh, beliau menyoroti peran strategis perempuan sebagai sumber gagasan dan inovasi.

Dalam dinamika pemerintahan maupun dunia usaha, ide-ide, pandangan, dan pertimbangan perempuan senantiasa ditunggu, dicari, dan menjadi landasan penting bagi para pemimpin negara maupun pemimpin perusahaan dalam mengambil keputusan krusial.

Hal ini menunjukkan bahwa peran perempuan tidak hanya sebatas pelaksana, melainkan juga pemikir dan penentu arah kebijakan yang memiliki bobot intelektual tinggi.

Salah satu poin krusial yang dibedah secara tajam oleh Mbah Hadi adalah mengenai doktrin sosial maupun penafsiran agama yang kerap digunakan sebagai landasan ketimpangan, yakni perihal pernikahan dan poligami.

Dalam pemahaman yang berkembang luas, laki-laki dibolehkan memiliki lebih dari satu istri, sementara wanita mutlak tidak diperbolehkan memiliki lebih dari satu suami.

Menurut Mbah Hadi, ketentuan atau pemahaman sepihak ini kerap kali berubah menjadi doktrin yang sangat menguntungkan kaum laki-laki saja, namun membebani serta membatasi hak dan kedudukan perempuan.

“Mengapa aturan atau pemahaman ini terasa timpang? Karena jika kita bicara soal derajat dan nilai kemanusiaan, seharusnya ukurannya sama.

Ketimpangan aturan ini sering kali digunakan sebagai dasar untuk melegitimasi posisi laki-laki lebih tinggi. Padahal hakikatnya, perempuan adalah makhluk yang utuh, sejajar, dan memiliki derajat kemuliaan yang sama tingginya dengan laki-laki,” tegas beliau.

Masih menurut pandangan Mbah Hadi, kesalahan persepsi masyarakat sering kali bersumber dari cara pandang yang parsial.

Banyak pihak menilai perempuan hanya dari sisi-sisi tertentu yang dianggap sebagai kekurangan atau kelemahan, tanpa pernah meninjau beragam sisi lain dari keunggulan, kekuatan, kebijaksanaan, dan ketangguhan yang dimiliki kaum hawa.

Penilaian sepihak inilah yang kemudian melahirkan stigma ketidaksetaraan yang sesungguhnya tidak berdasar pada hakikat kemanusiaan maupun potensi riil individu.

Secara sosiologis, pandangan Mbah Hadi Sumarni ini selaras dengan kajian-kajian kesetaraan gender yang memandang bahwa perbedaan biologis tidak serta-merta berarti perbedaan nilai atau derajat sosial.

Pembagian peran yang ada hanyalah bentuk spesialisasi fungsi, bukan hierarki kedudukan. Wanita bukanlah makhluk kelas dua atau pelengkap semata, melainkan mitra sejajar yang berperan sentral dalam membangun peradaban, mendidik generasi, dan menjaga keseimbangan tatanan masyarakat.

Di akhir uraiannya yang bernuansa akademis dan penuh kebijaksanaan, Mbah Hadi Sumarni menegaskan kembali pokok pikiran utamanya: Pemahaman bahwa wanita lebih rendah derajatnya adalah penafsiran yang keliru dan sepihak.

Hakikat sejatinya, wanita dan laki-laki diciptakan sejajar, saling melengkapi, dan memiliki kemuliaan yang sama di mata nilai kemanusiaan yang luhur. Menempatkan perempuan pada posisi yang tepat dan setara adalah langkah mutlak menuju masyarakat yang adil, beradab, dan berkelanjutan.

Penulis by Sutarno

Berita Relevan