JAKARTA – Banyak orang tua merasa cemas, khawatir, bahkan gelisah saat mendapati anak usia dua hingga empat tahun mengucapkan hal-hal yang tidak sesuai kenyataan.
Ketakutan kerap muncul: apakah ini awal kebiasaan buruk yang akan terbawa hingga mereka dewasa kelak? Padahal, para pakar perkembangan anak menegaskan bahwa perilaku tersebut sejatinya merupakan bagian alami dan wajar dalam pertumbuhan kemampuan berpikir seorang anak.Selasa 30 Juni 2026.
Pada rentang usia tersebut, daya imajinasi anak berkembang sangat pesat, namun kemampuan memilah apa yang nyata dan apa yang sekadar khayalan belum terbentuk sempurna.
Baca Juga
Apa yang tampak sebagai kebohongan sering kali hanyalah ungkapan dunia batin mereka yang masih menyatu antara kenyataan dan angan-angan.
Selain itu, ada pula alasan lain di balik perilaku itu: keinginan menghindari hukuman atau kemarahan, naluri melindungi orang lain, hingga harapan mendapatkan sesuatu yang sangat didambakannya.
Meskipun fenomena ini tergolong tahap perkembangan yang wajar, peran orang tua tetap sangat diperlukan guna menanamkan nilai kejujuran dan kebenaran secara bertahap.
Penting bagi orang tua untuk menyikapi hal ini dengan penuh kebijaksanaan dan ketelatenan. Berikut adalah langkah bijak yang dapat diterima guna membimbing anak menuju sikap jujur:
1. Jangan Melekatkan Sifat Negatif Kepada Diri Anak
Hindari sepenuhnya ucapan atau sebutan yang melabeli anak sebagai “pembohong” atau sebutan serupa lainnya.
Pemberian cap buruk semacam itu berisiko membuat anak memandang dirinya pribadi yang buruk dan salah, sehingga menurunkan kepercayaan diri serta semangatnya untuk berubah menjadi lebih baik.
Lebih baik jelaskan bahwa apa yang dikatakan tidak benar, namun kasih sayang dan penerimaan orang tua kepadanya tetap utuh dan tidak berkurang sedikit pun.
2. Mengajak Bercerita, Bukan Langsung Menuduh
Sikap menekan, memarahi, atau menuduh di awal pembicaraan justru akan membuat anak menutup diri dan makin takut mengungkapkan kebenaran.
Gunakan nada bicara yang lembut namun tegas, tenang dan ramah, serta ajukan pertanyaan yang membuka ruang bagi mereka untuk bercerita apa adanya. Dengan suasana yang aman dan nyaman, anak akan lebih berani mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam pikiran maupun perbuatannya.
Memahami tahapan tumbuh kembang anak adalah kunci utama dalam mendidik. Kebijaksanaan dan kesabaran orang tua menjadi landasan kokoh agar nilai-nilai luhur, termasuk kejujuran, dapat tumbuh berakar kuat di dalam jiwa anak sejak usia dini.
Wartawan by Sutarno

















