JAKARTA – Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III (Kogabwilhan III) Letjen TNI Lucky Avianto mengonfirmasi insiden baku tembak dengan kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang diawali pembunuhan keji terhadap tiga warga sipil, sekaligus mengeluarkan ultimatum tegas bagi seluruh anggota kelompok separatis untuk segera menyerahkan diri.
Peristiwa bermula saat Satgas TNI tengah melaksanakan evakuasi jenazah pasangan suami istri Bapak Kumis Tua Kogoya atau yang akrab disapa Yantinus beserta istrinya, yang tewas mengenaskan akibat ditembak secara brutal oleh kelompok OPM. Di tengah proses evakuasi tersebut, pasukan TNI tiba-tiba mendapat serangan membabi-buta dari kelompok bersenjata itu.
Menindaklanjuti serangan yang mengancam keselamatan personel maupun warga sekitar, Satgas TNI mengambil tindakan tegas sesuai Undang-Undang, peraturan yang berlaku, serta aturan penggunaan kekuatan atau Rules of Engagement (ROE) guna menjamin setiap langkah tetap menjunjung tinggi hukum dan hak asasi manusia.
Baca Juga
“Saat hendak ditangkap di sekitar Kampung Kali Fis, Distrik Awingbon, Kabupaten Pegunungan Bintang, kelompok OPM tiba-tiba menembak personel TNI dengan membabi-buta, sehingga Satgas TNI mengambil tindakan tegas berdasarkan ketentuan yang berlaku,” tegas Letjen Lucky Avianto dalam keterangan resminya, Jumat (24/7/2026).
Akibat baku tembak tersebut, satu anggota kelompok OPM tewas. Dari noken miliknya ditemukan 11 butir peluru tajam, alat komunikasi, serta barang bukti lainnya. Sementara senjata api yang digunakan untuk membunuh tiga warga Yahukimo sekaligus menyerang personel TNI sempat dibawa lari oleh rekan-rekannya.
Panglima Kogabwilhan III menegaskan prinsip salus populi suprema lex esto—keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi—selalu menjadi pedoman utama. TNI tidak akan pernah ragu bertindak tegas menghadapi ancaman yang membahayakan nyawa warga sipil maupun personel aparat.
Terakhir, Letjen Lucky mengeluarkan ultimatum keras: “Kami mengultimatum seluruh anggota TPNPB-OPM untuk menghentikan seluruh aksi kejahatan kemanusiaan, segera menyerahkan senjata, dan kembali bergabung ke pangkuan Ibu Pertiwi sebelum TNI mengambil tindakan tegas dan menyeluruh terhadap kelompok separatis bersenjata tersebut.”
Wartawan sutarno

















