JAWA TENGAH – Grup musik rock terkemuka Lawang Pitu baru saja menorehkan lembaran baru dalam perjalanan seni musiknya dengan menyelenggarakan rangkaian tur promosi untuk album kedua mereka yang bertajuk Lahir untuk Jadi Pemenang.
Berlangsung pada rentang waktu 15 hingga 22 Mei 2026, tur ini menjangkau lima wilayah utama di Provinsi Jawa Tengah, sekaligus menjadi momen penting untuk memperkenalkan formasi terbaru mereka kepada khalayak luas, setelah sebelumnya dibentuk di lingkungan ACC Studio Bekasi tepat pada 1 Februari 2022.
Rangkaian perjalanan seni ini membawa kelompok musik tersebut menyambangi kota-kota Pemalang, Pekalongan, Semarang, Wonosobo, hingga Purbalingga—semuanya merupakan wilayah yang menjadi basis pendukung setia yang tergabung dalam komunitas penggemar bernama Bolo7, yang selalu menyapa dengan seruan khas penuh keakraban: “Bolo7… Aku bolo mu”.
Baca Juga
Sejak awal berdiri, Lawang Pitu telah diperkuat oleh sejumlah musisi berpengalaman yang namanya tidak asing di jagat musik tanah air, antara lain Doddy Katamsi yang pernah tergabung dalam Elpamas, SYL, dan Kantata sebagai vokalis, Tommy Karmawan dari grup Garux pada posisi gitar utama, Sadtriyo Atmojo yang pernah menjadi bagian dari Junior Koes Plus sebagai gitaris ritme, Arif Rahman sebagai pemain drum, serta ACC yang memegang peran sebagai penggendong bass.
Seiring berjalannya waktu, komposisi personel ini mengalami perubahan: Doddy Katamsi memilih mundur dari posisinya demi alasan kesehatan, sedangkan Tommy Karmawan mengundurkan diri guna lebih fokus mengembangkan galeri seni lukis miliknya sekaligus kembali berkarya bersama kelompok musik asalnya.
Kini, Lawang Pitu hadir dengan wajah baru yang tetap menjaga kualitas seni yang tinggi, dengan komposisi personel yang terdiri dari Trison Manurung—yang namanya dikenal melalui kiprahnya di grup ROXX dan pernah menjadi bagian dari grup musik kenamaan Edane—sebagai pengisi suara utama, Jibonez yang mengemban tugas sebagai gitaris utama, didukung kembali oleh Sadtriyo Atmojo, Arif Rahman, dan ACC yang tetap setia mengisi posisi masing-masing.
Kelompok musik ini memiliki prinsip seni yang jelas: menghadirkan karya musik beraliran rock yang tetap mudah diterima dan menyentuh hati berbagai lapisan masyarakat.
Lirik-lirik yang mereka tulis dirangkai dengan gaya lugas namun penuh makna, mengangkat beragam tema mulai dari perasaan cinta, keindahan alam dan kekayaan budaya Indonesia, hingga permasalahan dan dinamika kehidupan sehari-hari yang relevan dengan kenyataan yang dihadapi banyak orang.
Pada album keduanya ini, Lawang Pitu menyajikan pendekatan bermusik yang lebih mendalam dan lebih tenang dibandingkan karya sebelumnya, yang mereka sebut sebagai pendekatan tone down.
Melalui gaya ini, kelompok musik tersebut ingin memperlihatkan sisi lain dari kehidupan para pelaku seni musik rock—yang sering kali hanya dikenal dengan citra keras dan penuh semangat—yang ternyata juga memiliki perasaan, pemikiran, dan kisah hidup yang manusiawi.
“Kami berharap karya ini mampu membawa angin segar yang menyegarkan bagi perkembangan industri musik Indonesia, serta menjadi warna baru yang memperkaya khazanah seni musik tanah air,” demikian tertulis dalam pernyataan resmi yang disampaikan pihak manajemen Lawang Pitu pada Jumat, 23 Mei 2026.
Album Lahir untuk Jadi Pemenang memuat total sepuluh karya musik pilihan, yaitu Kuwa Kuwi, Intoleransi, Ilusi, Jaya Indonesia Ku, Instink, Nurani, Debat Kusir, Lahir untuk Jadi Pemenang, Terang Yang Abadi, serta Serpihan Surga.
Rangkaian pertunjukan ini dimulai dari tempat hiburan Buzz KTV di Pemalang pada 15 Mei 2026, kemudian dilanjutkan ke Red Box Pekalongan pada hari berikutnya, berlanjut ke kedai kopi dan ruang seni Kopi Revolusi Semarang pada 17 Mei, sebelum akhirnya sampai di Sanera Coffee Wonosobo pada 21 Mei dan ditutup dengan pertunjukan di Kantor Kopi Purbalingga pada 22 Mei 2026.
Dari seluruh rangkaian perjalanan ini, penampilan yang digelar di Wonosobo menjadi salah satu momen yang paling bersejarah dan penuh kenangan.
Pada pertunjukan tersebut, Lawang Pitu berkesempatan tampil bersama salah satu legenda gitar musik tanah air, Eet Sjahranie, dan disambut dengan antusiasme yang luar biasa dari para hadirin yang memenuhi tempat acara. Kesuksesan acara ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak.
Sehingga kelompok musik ini menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada komunitas WRC atau Wonosobo Rock City, pihak pengelola Sanera Coffee selaku penyedia tempat dan tuan rumah, komunitas pendukung Bolo Pitu Wonosobo yang setia menemani sejak awal perjalanan, serta Katarina Echa dan rekan-rekan lainnya yang telah membantu kelancaran penyelenggaraan acara.
“Kami sangat bersyukur seluruh rangkaian tur promosi ini dapat berjalan dengan lancar, aman, dan mendapatkan sambutan yang sangat hangat dari masyarakat di setiap kota yang kami kunjungi.
Selama perjalanan ini banyak sekali kejadian unik, menyenangkan, dan menyentuh hati yang akan menjadi kenangan abadi bagi kami, terutama energi luar biasa dan dukungan yang kami rasakan saat tampil di Wonosobo,” ujar perwakilan dari kelompok musik Lawang Pitu.
Di kota terakhir perjalanan mereka, Purbalingga, kelompok musik ini kembali mengadakan pertunjukan bersama Eet Sjahranie, dan kembali mendapatkan tanggapan yang sangat positif serta dukungan penuh dari para penggemar dan penonton yang hadir.
Melalui album Lahir untuk Jadi Pemenang dan seluruh rangkaian tur promosi ini, Lawang Pitu menyampaikan harapan besar agar karya-karya mereka dapat diterima dengan baik oleh seluruh pecinta musik rock di seluruh penjuru tanah air, sekaligus menjadi sumber inspirasi yang mendorong setiap orang untuk terus berjuang, berusaha menjadi yang terbaik bagi diri sendiri, bagi orang yang dicintai, serta bagi terwujudnya Indonesia yang lebih maju, lebih baik, dan penuh harapan.
Wartawan by Haris.














